Ilustrasi Memaknai Mudik Lebaran dan Merayakan Perbedaan. (Foto: ANTARA/Mohamad Hamzah/foc/am)

Oleh karena itu, kembali ke esensi kemanusiaan adalah keniscayaan. Kita perlu menyadari sepenuhnya sebagai hamba yang harus menjaga hubungan dengan sesama dan juga dengan Tuhan Yang Mahaesa.

Bersamaan dengan momentum Idulfitri, sangat tepat kita mudik, pulang kampung, silaturahmi menyambung kembali dan meniti eyang-eyang (leluhur kita) dan sekaligus mengagungkan kebesaran Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang dibuktikan dengan kecintaan kepada sesama.

Mudik dan Lebaran

Mudik atau pulang kampung dalam makna denotatif adalah kegiatan pulang ke daerah asal masing-masing. Tetapi fenomena ini memiliki juga makna konotatif yang memiliki pesan simbolik bahwa manusia, siapapun dia memiliki kerinduan akan asalnya.

Secara fisik, manusia yang berasal dari tanah akan rindu kembali ke tanah, manusia yang berasal dari Tuhan akan rindu kembali kepada Tuhannya, dan manusia yang berasal dari kampung juga merindukan kampung halamannya.

Sedangkan Lebaran bisa diartikan lebar (luas) atau penghabisan (pungkasan). Lebaran dikaitkan dengan perayaan Idulfitri bisa diartikan lebar/luas. Maknanya, orang yang telah menyelesaikan ibadah Ramadan harus mampu membuka dada yang lebar/luas untuk nasehat/proposal perbaikan dan juga memaafkan semua (habis-habisan) kekhilafan orang lain.

Lebaran berarti pungkasan atau habis-habisan memiliki makna kita yang telah rampung melaksanakan ibadah puasa dan bertemu di hari Idulfitri (Lebaran) harus mampu dan betul-betul bisa membuang jauh-jauh rasa dendam dan kebencian kepada sesama. Sekali lagi kalau kita ingin makna sesungguhnya kita bertanya kepada para pelakunya.

Mudik dan Lebaran merupakan dua aktivitas yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Kegiatan mudik yang dibarengkan dengan kegiatan Lebaran tentu saling memberikan makna yang saling menguatkan.

Momentum yang sangat ditunggu-tunggu dan dirindukan setiap tahun ini selalu menjadi peristiwa menarik untuk dibincangkan. Setiap tahun, selalu ada hal-hal yang menarik perhatian untuk didiskusikan. Termasuk yang terjadi pada tahun ini karena penetapan awal Bulan Syawal terjadi perbedaan.

Merayakan Perbedaan

Perbedaan penetapan awal Syawal tidak hanya terjadi pada tahun ini saja. Beberapa tahun sebelumnya juga pernah terjadi dan bahkan setiap tahun juga ada yang berbeda. Kalau kita mengamati dengan cermat, setiap terjadi perbedaan itu juga sangat beragam variabelnya.

Perbedaan tidak hanya antarorganisasi masyarakat (ormas), ormas dan pemerintah, tetapi terkadang dalam satu ormas-pun juga terjadi perbedaan. Bisa terang-terangan perbedaan itu dinyatakan dan ada pula yang diam-diam dilaksanakan.

LEAVE A REPLY