
Sejauh ini, pengalaman yang kita rasakan, umat Islam di Indonesia ini sudah sangat dewasa merespons perbedaan. Kita satu negara terkadang beda suku dan bangsa. Kita satu suku dan bangsa terkadang beda agama.
Kita satu agama terkadang beda paham. Kita satu paham terkadang beda pemahaman, Kita satu pemahaman terkadang beda pengamalan. Kita sama pengamalan tetapi juga pasti beda keikhlasan. Kalau dicari bedanya, pasti tidak akan ada habisnya dan semua kita pasti memiliki perbedaan.
Oleh karena itu, mampu merayakan perbedaan merupakan anugerah yang luar biasa yang akan mendatangkan kebahagiaan. Termasuk perayaan lebaran Idulfitri tahun ini yang penetapan awal bulan Syawal-nya terjadi perbedaan, maka ini tidak perlu dibesar-besarkan bahkan menjadi perselisihan yang bisa mengarah pada perpecahan.
Anugerah keberagaman termasuk dalam keberagamaan yang telah diberikan kepada bangsa ini harus selalu kita syukuri dengan cara sama-sama menjaga dan merawatnya. Ini adalah bagian dari bukti cinta kita kepada Tanah Air Indonesia.
Oleh karena itu, arahan Gus Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas melalui Surat Edaran penyelenggaraan Hari Raya Idulfitri 1444 H/2023 M yang mengimbau umat Islam tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dalam menyikapi perbedaan awal Syawal Tahun 1444 H ini harus menjadi pijakan kita bersama.
Perayaan Idulfitri 1 Syawal hanya satu dari sekian banyak peristiwa dan kegiatan keagamaan. Seruan Gusmen ini sangat pennting untuk kita pedomani, khususnya bagi ASN Kementerian Agama yang harus mengawal dan memberi teladan kepada masyarakat untuk menjunjung tinggi Ukhuwah Islamiyah.
Karena kita sama kita harus bersama. Karena bersama kita harus sama-sama berkorban dan menghargai. Karena kita sama-sama berkorban dan menghargai, kebersamaan kita menjadi bermakna.
Selamat Idulfitri 1444 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Sumber: Kemenag



























