Petugas haji membantu jemaah lansia. (Foto: MCH 2024)

Oleh: Ruchman Basori (Pemantau Haji dan Inspektur Wilayah II Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI)

ZNEWS.ID JAKARTA – “Peluklah dan bopong seperti layaknya nenek sendiri, ayo, Mas,” kata seorang petugas perempuan kepada temannya, yang sedang membantu seorang nenek turun dari bus, sesampai dari Bandara Jeddah. Mereka akan berangkat menuju hotel di sektor Makkah.

“Nenek jangan takut, ya, ada saya. Nenek akan aku temani mencari kamar bergabung dengan teman-teman nenek”, kata seorang pemantau haji, ketika menjumpai seorang nenek, sedang menagis karena lupa arah pulang ke kamarnya di hotel di Madinah, tempat jemaah haji Indonesia tinggal.

Sementara itu, kesibukan petugas haji, membantu tamu Allah (Duyufur Rahman), juga terlihat di Terminal Bus Shalawat Syib ‘Amir dan Jiyad. Mereka mengarahkan nomor bus, membantu jemaah yang sudah beberapa lama terpisah dari rombongan, menaikan dan menurunkan jemaah dan problem-problem lainnya.

Sebuah pemandangan cinta. Cinta seorang hamba dengan hambanya, tanpa melihat status sosial. Cinta seorang petugas haji dengan jemaahnya, yang akan berbuah kebahagiaan karena bisa beribadah di tanah suci dengan khusyu’ dan nantinya mencapai haji yang mabrur.

Kasih sayang yang terbangun karena tugas suci dan mulia. Menjalani takdir Tuhan menjadi petugas haji, yang ditunjuk oleh Kementerian Agama. Tentu secara fisik dan mental sudah dipersiapkan, dengan pelbagai risiko yang akan dihadapinya.

Orang yang bertugas telah melalui seleksi yang ketat, dengan kriteria tertentu dan pelatihan menjadi petugas haji yang tidak mudah.

Tulisan singkat ini akan sedikit memotret para petugas haji Indonesia yang telah memerankan diri menebarkan cinta-kasih di Kota Makkah dan Madinah, dalam konstruk penyelenggaraan ibadah haji.

BACA JUGA  Laporan Program DMC Dompet Dhuafa Sepanjang 2023

LEAVE A REPLY