Sejumlah situs megalitikum yang ada di kawasan situs Pokekea, Desa Hanggira, Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA/Rangga Musabar)

“Fragmen gerabah ini sebenarnya mengarah ke intensitas hunian, itu menandakan bahwa Napu, Besoa, Bada, itu adalah pemukiman yang ramai. Tapi bukan seperti kerajaan, mereka itu cenderung terpisah pisah, berkelompok,” tuturnya

Tanwir menilai, sejumlah artefak-artefak ini mengarah ke fungsi sakral, atau pemujaan yang dilakukan pada zaman dahulu. Ia menjelaskan, patung itu kemungkinan besar seperti perwujudan nenek moyang atau apa, yang kemudian itu disembah.

“Hampir semua situs, yang namanya patung itu arahnya ke pemujaan,” jelasnya

Ritual adat pengangkatan dan pemindahan arca Suso dari sungai. (Foto: Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo)

Terlepas dari itu, Tanwir mengatakan bahwa megalith merupakan aset luar biasa yang dimiliki Sulteng.

“Ini bisa jadi pemasukan, baik untuk masyarakat, maupun negara kita,” katanya

Sementara itu, Iksam Djorimi, yang juga arkeolog Sulawesi Tengah mengatakan bahwa pada 2000 lalu, Tim Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) telah membuktikan bahwa fungsi batu berbentuk bejana atau disebut Kalamba sebagai wadah penguburan secara komunal.

Hal itu terkuak setelah Tim Dikbud menemukan fragmen tulang dan tengkorak manusia, gigi manusia, serta fragmen gerabah di dalam Kalamba yang diduga merupakan satu keluarga, di lokasi situs megalith Tadulako.

LEAVE A REPLY