
Beberapa batu besar berbentuk bejana, lengkap dengan penutupnya, dihiasi relief, terhampar di areal perbukitan situs Pokekea. Batu berbentuk bejana itu disebut masyarakat setempat dengan sebutan Kalamba, sementara tutupnya disebut Tuatena.
Selain Kalamba, situs megalitikum Pokekea juga terdapat beberapa arca batu yang berbentuk wajah manusia dengan ukuran berbeda beda. Sejumlah peneliti memperkirakan ini dibuat sekitar tiga sampai empat ribu tahun sebelum masehi.
Masih dalam kawasan Lembah Besoa, terdapat situs megalitikum Tadulako. situs ini berada di Desa Bariri, Kecamatan Lore Tengah. Di situs megalith Tadulako terdapat patung berukuran setinggi kurang lebih dua meter, dengan posisi menghadap ke barat. Menurut hasil penelitian, patung ini berjenis kelamin laki-laki, dengan nama Tadulako.

Sekarang namanya dipakai pada Universitas Negeri yang ada di Kota Palu, Sulawesi Tengah, dengan nama Universitas Tadulako (Untad).
Beberapa Kalamba juga terdapat di situs megalitik Tadulako ini. Walaupun jumlahnya tak sebanyak dan ukurannya tak sebesar di situs Pokekea.
Banyak cerita dibalik situs megalitik di Lembah Besoa, baik hasil penelitian para ahli arkeolog, maupun mitologi yang dipercayai masyarakat sekitar. Dua lokasi itu merupakan bagian dari ratusan situs megalith di Kabupaten Poso, yang tersebar di tiga Lembah, yakni Lembah Bada, Besoa dan Lembah Napu.
Ramai Penduduk
Tanwir Lamaming, arkeolog yang melakukan penelitian terhadap situs megalith di Sulawesi Tengah sejak 1991 menilai, dahulunya tiga lembah tersebut merupakan kawasan ramai penduduk. Hal itu mengacu dari ditemukannya sejumlah fragmen gerabah hampir di semua situs.


























