Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Kalimantan Selatan Dwi Putera Kurniawan menunjukkan buah kopi yang tumbuh di Pegunungan Meratus di Desa Alat, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. (Foto: ANTARA/Bayu Pratama S)

Belanda kelabakan. Bagaimana tidak, saat itu VOC sudah menguasai tiga perempat perdagangan kopi di dunia. Dan, dari jumlah itu, setengahnya dihasilkan dari perkebunan kopi di Jawa.

Agar penyakit ini tidak menghancurkan bisnis kopi, Belanda mendatangkan jenis kopi liberika yang digadang-gadang lebih tangguh dan tahan terhadap karat daun. Liberika sempat menjadi primadona karena mampu menggantikan arabika. Harga kopi ini juga sama bagusnya dengan arabika di pasar Eropa.

Hingga 1888, kopi liberika sudah tersebar di perkebunan kopi di enam keresidenan Pulau Jawa, yakni Pasuruan, Probolinggo, Madiun, Besuki, Priangan, Tegal, dan sedikit di perkebunan kopi Lampung, Sumatra.

Diduga, karena pengolahan tanah yang tidak tepat dan masih ada sisa-sisa penyakit karat daun di lahan, kopi liberika yang ditanam di lahan yang sama akhirnya juga terkena penyakit yang sama. Hingga pada 1907, Belanda membawa kopi robusta ke Indonesia.

Hingga sekarang, lebih dari 70 persen perkebunan kopi di Indonesia adalah perkebunan kopi varietas robusta. Sementara sisanya sekitar 27 persen adalah kopi arabika dan tidak lebih dari 1 persen adalah perkebunan kopi liberika.

Saat ini, kopi liberika masih ditanam warga di lahan gambut sepanjang pantai timur Sumatra di Jambi, Kepulauan Riau, Kepulauan Meranti. Di luar kawasan tersebut juga ditanam di lahan gambut Kalimantan.

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY