Ambulans Barzah. (Foto: Dompet Dhuafa)

Sekitar 30 menit kami berjibaku mencari cara terbaik untuk memindahkan jenazah dari brankar kamar jenazah ke keranda mobil Barzah.

Setelah berkas administrasi jenazah diterima, kami pun bergegas berangkat menuju rumah duka di Kabupaten Bogor wilayah utara.

“Bang, abang tahu rumah dukanya?” tanya saya sambil perlahan melaju meniggalkan area rumah sakit.

“Ya, insyaallah, tahu,” jawabnya dengan nada rendah.

“Terus, keluarganya sudah dikabari dan siap nerima kedatangan jenazah, bang?” tanya saya sambil menambah kecepatan laju mobil.

“Ya, sudah siap,” jawabnya sambil meletakkan tangan kiri di atas kepala lalu menggaruk-garuknya ringan.

Saya mulai ragu mendengar jawabannya. Tiga puluh menit melaju, tibalah kami di tempat tujuan. Sepi, tidak terlihat seorang pun yang bersiap menerima kedatangan jenazah.

“Ini rumah siapa, Pak?” tanya saya tegas kepada lelaki yang mendampingi jenazah.

“Ini rumah saudaranya, adiknya kalau nggak salah,” jawabnya.

“Lah, memang dia nggak punya rumah?” tanya saya lagi.

“Iya, dia sudah pisah sama istri. Semua anaknya ikut istrinya,” ucap lelaki itu.

“Terus gimana ini jenazahnya?” tanya saya, resah.

“Ya, sebentar dulu, Pak,” sahut lelaki tersebut.

LEAVE A REPLY