Usai dimakamkan, sang tokoh agama lalu bercerita panjang terkait perjalanan hidup almarhum yang ia kenal sejak kecil. Berdasarkan ceritanya, setelah menikah dan cerai dengan istri pertama, jenazah tersebut sempat beberapa kali ganti istri.
Hartanya habis terjual untuk menopang gaya hidupnya, sampai anak-anaknya pun meninggalkan karena merasa ditelantarkan.
Beberapa saudaranya kecewa berat, karena merasa dirugikan almarhum sebagai anak paling tua serakah sekali dengan harta warisan orang tua. Tanpa bertanya dan musyawarah dengan keluarga, almarhum menjual lahan milik orang tuanya dan dipakai untuk berfoya-fota.
Sampai pada puncaknya, rumah satu-satunya peninggalan orang tua dijadikan jaminan pinjaman ke bank dan akhirnya tidak mampu bayar, sehingga rumah itu disita oleh pihak bank. Dari situlah semua saudaranya murka. Sampai di hari wafatnya, mereka tidak mau tahu.
“Ya, begitu, dah, orang kalau serakah, mah. Di mana-mana juga belum pernah ada orang kaya gara-gara serakah sama warisan. Yang ada, mah, malah susah blangsak,” ujar sang tokoh menutup cerita.



























