
Baginya dengan menerima uang itu berarti ia mendapatkan musibah yang lebih besar dibandingkan dengan wafatnya Khalifah Umar bin Khattab atau kalahnya kaum muslimin dalam peperangan melawan orang kafir.
Maka, agar kenikmatan di dunia tidak menghancurkan kenikmatannya kelak di akhirat, ia dan istrinya segera membagikan uang dinar tersebut kepada para fakir miskin di wilayah kekuasaannya.
Said bin Amir, walaupun sebagai gubernur, tidak memiliki pembantu. Ia sendiri yang mengaduk tepung dan memasak roti untuk keluarganya.
Ia juga hanya memiliki beberapa helai pakaian yang bagus untuk dipakai bekerja. Ia sendiri juga yang mencuci pakaian di rumah. Terkadang, ia memakai pakaian yang lusuh untuk bekerja, karena pakaian yang bagus belum kering saat baru dicuci.
Mendengar hal ini, Khalifah Umar lewat utusannya kembali mengirimkan uang kepadanya untuk dapat dibelikan pakaian. Said bin Amir setelah menerima uang dari Khalifah Umar, kembali membagikan uang tersebut kepada para fakir miskin.
Kesederhanaan sebagaimana Gubernur Said bin Amir dicontohkan juga oleh para pejabat di Indonesia. Bung Hatta, negarawan dan ekonom Indonesia yang menjabat sebagai Wakil Presiden RI yang pertama, suatu ketika sangat rindu dengan ibunya yang sudah lama ia tidak temui. Ia meminta keponakannya untuk menjemput ibunya.
Keponakan Bung Hatta mengusulkan untuk menjemput ibu dari Bung Hatta dengan mobil dinas wakil presiden, agar ada kebanggaan seorang ibu dan masyarakat sekitar tempat tinggal ibunya bahwa ia dijemput dengan mobil seorang pejabat tinggi negara.
Namun, Bung Hatta tidak mengizinkan mobil dinas tersebut dipakai menjemput ibunya. Bahkan ia meminta pinjam mobil keponakannya tersebut.
Saat masih menjabat sebagai wakil presiden, Bung Hatta ingin sekali membeli sepatu Bally yang saat itu terkenal sebagai merek sepatu yang bermutu tinggi, terkenal, dan mahal harganya. Karena uangnya tidak cukup untuk membeli sepatu tersebut, Hatta lalu menabung.





























