Ilustrasi Jalan Moderat Terapkan Pola Hidup Hemat.(Foto: Shutterstock)

Pada zaman sekarang, konsep frugal living masih dianut dengan setia oleh masyarakat di beberapa daerah. Salah satu contoh adalah yang diilustrasikan oleh Imam Prayogo, seorang pakar ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang, Jawa Tengah.

“Nenek moyang kita mengajarkan frugal living dan masih dapat ditemukan di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Surakarta, Madiun, dan daerah lainnya,” kata Igo, sapaan akrabnya.

Masyarakat di daerah-daerah tersebut memiliki gaya hidup yang sederhana. Hal ini terlihat dari rumah-rumah mereka yang sederhana, pekerjaan di ladang atau sawah, berdagang, dan tidak terobsesi dengan pangkat atau jabatan.

“Kehidupan sosial mereka masih sederhana, berbeda dengan masyarakat perkotaan yang lebih fokus pada penampilan dan aspek sosial,” tambahnya.

Hal ini menjadi peluang bagi para pengusaha atau bankir. Maraknya pinjaman online yang mudah diperoleh menjadi incaran bagi sebagian generasi muda perkotaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika potensi resesi dapat terjadi di negara ini.

Igo juga melihat bahwa di negara-negara maju, frugal living merupakan bagian dari strategi hidup.

“Hedonisme hanya memberikan kepuasan sesaat dalam kehidupan jangka panjang. Oleh karena itu, masyarakat di negara-negara Barat (negara-negara maju) telah menyadari hal ini dan secara perlahan meninggalkan pola hidup hedonisme,” ungkapnya, seorang ahli manajemen risiko.

Igo, yang juga mahasiswa Program Doktor di Fakultas Ekonomi Undip, merasa prihatin bahwa pola hidup hedonisme sekarang justru menyebar ke negara-negara berkembang dan miskin.

Sebagian Generasi Z saat ini merasa malu jika terlihat miskin. Banyak kasus yang terungkap melalui media online, misalnya siswa yang merasa malu saat acara wisuda karena ayahnya hanya naik sepeda motor dan bekerja sebagai buruh tani.

Generasi Z juga terlibat dalam penipuan online dengan kerugian yang fantastis, mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

LEAVE A REPLY