(Foto: makmalpendidikan.net)

Nurina Permatasari (Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 6 Sungai Danau, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan)

ZNEWS.ID TANAH BAMBU – Kisah ini bermula ketika saya pertama kali mengajar sebagai guru baru di sekolah ini, SDN 6 Sungai Danau, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Sebagai guru, saya dilanda rasa pesimis; akankah saya bisa menghadapi hari ini dengan baik ataukah menjadi hari yang paling buruk?

Hari pertama saya mengajar, banyak guru yang bersimpati, tetapi ada pula yang memandang pesimis. Rasa hati ini pun tak karuan jadinya.

Dengan gugup, kaku, dan canggung, saya melangkah masuk ke kelas. Waktu itu, saya diberikan kesempatan mengajar kelas 2. Saya tatap wajah heran beberapa siswa yang mungkin bertanya-tanya: siapakah orang asing yang berada di kelas kami ini?

Saya pun memperkenalkan diri. Saya juga menjelaskan bahwa sayalah yang akan menggantikan wali kelas mereka yang sedang sakit. Usai memberian penjelasan, segudang pertanyaan mereka lontarkan kepada saya.

Walau masih merasa canggung, saya terhibur oleh kepolosan wajah siswa-siswa tersebut. Saya pun merasa lebih tertantang untuk mengajar lebih baik lagi saat keesokan harinya.

Dan, untuk pertama kali, dalam seumur hidup saya, ada beberapa anak yang menghargai saya sebagai seorang guru. Tidak hanya itu, apa pun yang saya katakan, mereka selalu mendengarkan, memerhatikan, bahkan mengkritisi.

Di samping penglaman yang belum terlalu banyak, saya masih kesulitan saat mengondisikan kelas yang ramai. Terkadang, suara saya habis hanya untuk menertibkan siswa-siswa yang sering gaduh, berlari ke sana ke mari. Saya mulai kebingungan mencari cara guna menghadapi kelas yang seperti ini.

LEAVE A REPLY