JOMBANG — Jombang kini mempunyai rumah sakit dengan layanan yang lengkap dan memadai.

Rumah Sakit Hasyim Asy’ari (RSHA) merupakan buah kolaboraksi antara Yayasan Pondok Pesantren Tebu Ireng bersama Dompet Dhuafa. Rumah Sakit yang terletak di Jl. Cukir-Parkir Makam Gus Dur, Kwaron, Diwek, Jombang, Jawa Timur.

Dikatakan Pengasuh pondok pesantren Tebu Ireng, KH Abdul Hakim menyebutkan tahun 2006 sudah ada pusat kesehatan pesantren namun dengan adanya RSHA kebermanfaatannya makin dirasakan lebih besar.

“Kita bisa berkhidmah kepada masyarakat, karena kita ada pusat kesehatan pesantren 2006 dan sangat bermanfaat apalagi ada RSHA, kebermanfaatannya lebih besar lagi dan mudah-mudahan ini bisa menjadi rujukan kepada masyarakat,” ucap Abdul Hakim.

Inisiator, Dewan pembina Dompet Dhuafa Parni Hadi menegaskan bahwa mimpi Mas Sholah (sapaan akrab Parni kepada Gus Sholah) harus dilanjutkan bersama dan terus dikembangkan. Ia menyebut bahwa setiap orang yang terlibat dalam pembangunan RSHA sekaligus yang hadir di peluncuran ini adalah saksi sejarah dan juga pelaku sejarah.

“Hari ini kita menjadi saksi sejarah sekaligus kita pelaku sejarah, we are the history makers, dreams come true,” ucap Parni Hadi.

Selain itu, Wartawan senior ini melanjutkan bahwasanya dirinya ingin RSHA menjadi multisektoral dan multidimensional.

“Yaitu kerja sama sosial, intelektual, kultural dan spiritual. Insyaallah sehat jasmani, sehat rohani, sehat kantong. Banyak orang sakit jadi miskin, orang miskin lebih payah lagi. Dompet Dhuafa memberi sarana untuk bisa mandiri, kita ajari, kita berdayakan, kita punya pengalaman untuk itu,” tambahnya.

Senada dengan Parni, Gubernur Jatim Khofifah mengatakan dalam sambutannya bahwa layanan kesehatan masyarakat adalah PR bersama. Makin banyak rumah sakit, maka makin banyak pula upaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, mempercepat, mempermudah, dan mempermurah. Apalagi dengan adanya format dari Dompet Dhuafa yang bisa menyapa masyarakat-masyarakat kurang mampu yang belum bisa di-cover BPJS dapat terlayani secara cuma-cuma.

“Kalau kita sering bercerita bagaimana industri 4.0, society 5.0, maka sesungguhnya kuncinya satu, (yaitu) kolaborasi. Ketika terbangun strong collaboration maka pikiran-pikiran besar, ide-ide strategis insyaallah akan ketemu formatnya,” tegasnya.

Khofifah yang saat itu hadir bersama Direktur Utama RS dr. Soetomo, yaitu prof. Joni Wahyuhadi dan juga RS Jiwa Menur, menyebut akan ada banyak kemungkinan proses partnership yang bisa dibangun secara lebih strategis bersama rumah-rumah sakit di Jawa Timur.

“Kita berharap bahwa proses kolaborasi akan bisa dibangun, kemungkinan proses rujukan tertentu. Apa yang mungkin jenis alkes tertentu kemudian dokter spesialis tertentu,” imbuhnya.

Adanya RSHA ini memang bermaksud mampu menyerap masyarakat duafa dengan baik melalui proses verifikasi, administrasi, dan lainnya. Lebih luas lagi, RSHA juga melayani pasien secara umum, pasien BPJS serta pasien asuransi. Selain itu, RSHA memiliki program berobat gratis bagi pasien kurang mampu dan tidak mempunyai jaminan layanan kesehatan atau kartu BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang sudah tidak aktif.

Direktur RSHA, Aria Dewanggana menjelaskan, persyaratan administrasi bagi warga duafa yang ingin mendapatkan fasilitas di RSHA cukup mudah. Yaitu dengan membawa foto copy KTP, foto copy KK serta surat keterangan tidak mampu dari desa setempat.

LEAVE A REPLY