Abdul Khalim, General Manager School Development GREAT Edunesia Dompet Dhuafa, berbagai praktik baik pengelolaan wakaf yang dilakukan di Sekolah Al Syukro Universal dan SMART Cibinong dalam sharing session bertema “Sekolah dan Wakaf Produktif” yang diadakan GREAT Edunesia bersama Filantropi Indonesia dan Sekolah Sukma Bangsa, Selasa (28/5/2024). (Foto: GREAT Edunesia)

JAKARTA – Berbeda dengan zakat yang telah diterima dengan baik dalam masyarakat muslim sebagai kewajiban agama, perhatian terhadap wakaf sebagai instrumen filantropi yang dapat menggerakkan masih kurang.

Padahal, wakaf merupakan bagian penting dalam keuangan Islam yang memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk pendidikan. Di Indonesia, potensi wakaf mencapi Rp180 triliun.

Guna memperdalam edukasi seputar wakaf, khususnya dalam dunia pendidikan, GREAT Edunesia bersama Filantropi Indonesia dan Sekolah Sukma Bangsa mengadakan sharing session bertema “Sekolah dan Wakaf Produktif” yang disiarkan live pada 28 Mei 2024.

Abdul Khalim, General Manager School Development GREAT Edunesia Dompet Dhuafa, berbagai praktik baik pengelolaan wakaf yang dilakukan di Sekolah Al Syukro Universal dan SMART Cibinong.

“Dompet Dhuafa memiliki miniatur pengelolaan wakaf di bidang pendidikan. Ada dua lokasi yaitu Tangerang Selatan, Sekolah Al Syukro Universal dan Klapanunggal yaitu Sekolah SMART Cibinong. Tanpa membuka donasi, tanpa meminta bantuan, tapi keduanya surplus miliaran,” ucap Khalim.

Patut diakui, guna menyelenggarakan pendidikan berkualitas butuh dana yang tidak sedikit. Adanya SDM berkualitas, fasilitas yang lengkap, dan kurikulum terbaik, dihasilkan melalui proses yang tidak murah.

Kondisi ini membuat pendidikan hanya terjangkau oleh kalangan atas. Namun dengan adanya skema wakaf, pendidikan berkualitas bisa dijangkau semua kalangan.

“Walaupun berbayar, di sekolah wakaf yang kami kelola, biaya tidak semahal di sekolah yang setara. Kami buatkan unit bisnis untuk mensubsidi berbagai pengeluaran. Ke depan, kami berencana membangun SPBU, keuntungannya bisa dikonversi sebagai beasiswa. Hari ini kami sudah bisa memberikan beasiswa untuk kurang lebih 50 murid setiap tahun,” tutur Khalim.

Namun, di balik kesuksesan pengelolaan sekolah produktif, Khalim juga berbagi tantangan yang muncul.

BACA JUGA  Manfaatkan Wakaf Produktif Guna Lahirkan Lapangan Pekerjaan Baru

“Dalam pengelolaan sekolah produktif dibutuhkan kontrol yang ketat. Kami terus melakukan monitoring dashboard keuangan termasuk pengecekan sarana dan prasarana. Setiap kerusakan harus segera diperbaiki. Selain itu, program harus terus berinovasi agar aset tidak mandeg. Hal ini sesuai dengan kaidah wakaf bahwa aset wakaf ini tidak boleh berkurang atau minus,” ujarnya.

Di akhir sesi, Khalim berpesan agar setiap nazir atau pengelola wakaf senantiasa memegang tiga nilai sebagai kunci sukses pengelolaan wakaf produktif.

“Untuk pengelolaan wakaf produktif yang perlu ditanamkan nilai amanah, jujur, dan profesional. Amanah dalam mengelola dana wakaf, jujur dalam menyampaikan laporan pada wakif, profesional dalam mengembangkan aset wakaf sebagai bekal untuk mengemban amanah dan sebagai pertanggung jawaban kepada Allah,” tutur Khalim. (*)

LEAVE A REPLY