JAKARTA, ZNEWS.id – Dompet Dhuafa dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, serta sejumlah lembaga filantropi menggelar workshop untuk menindaklanjuti hasil Konferensi Asia Pasifik untuk Palestina.

Workshop bertajuk Asia Pacific Coalition for Al Quds and Palestine tersebut berlangsung di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026).

Forum ini membahas sepuluh resolusi hasil konferensi Asia Pasifik, dengan perhatian khusus pada dua deklarasi utama, yakni penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah serta pembentukan dana pembangunan Gaza.

Senior Officer of Strategic Alliance Dompet Dhuafa, Syamsul Ardiansyah, mengatakan kedua deklarasi tersebut merupakan amanat negara-negara Asia Pasifik yang perlu segera ditindaklanjuti secara konkret.

“Dua topik ini penting karena Indonesia mendapat mandat untuk menyiapkan langkah lanjutnya. Maka pembahasan diarahkan pada bagaimana konsep dan mekanisme pelaksanaannya,” ujar Syamsul.

Ia menjelaskan, gagasan besar terkait pendanaan pembangunan Palestina pascaperang perlu diturunkan ke dalam kerangka yang lebih operasional agar dapat segera dijalankan.

Workshop ini menghasilkan tiga konklusi utama. Pertama, pembentukan tata kelola koalisi Asia Pasifik untuk Palestina, termasuk struktur organisasi yang terdiri atas Dewan Penasihat, Dewan Pengarah, dan Direktur Eksekutif sebagai pimpinan sekretariat.

Kedua, penyepakatan konsep dana pembangunan Gaza yang kini berganti nama menjadi Asia Pacific Development Fund for Palestine.

Dana ini dirancang sebagai instrumen pendanaan bersama untuk mendukung pemulihan dan pembangunan berkelanjutan di Palestina.

Ketiga, penyusunan program-program strategis yang akan dijalankan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Seluruh hasil workshop ini rencananya akan dibawa ke pertemuan Global Coalition for Al Quds and Palestine.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada jalur politik dan diplomasi saja, tetapi juga diperkuat melalui jalur kemanusiaan.

“Channel kemanusiaan inilah yang terus kita kembangkan agar kontribusi Indonesia benar-benar berdampak,” ujarnya.

LEAVE A REPLY