Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa bersama masyarakat Desa Sidomulyo kembali menanam 2.000 bibit mangrove di Pantai Soge, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Senin (13/2/2023). (Foto: DMC DD)

Sebagai informasi, abrasi disebabkan oleh ketidakseimbangan ekosistem laut di mana terjadi eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh manusia terhadap kekayaan sumber daya laut seperti ikan, terumbu karang dan biota lainnya.

Sehingga, apabila terjadi arus atau gelombang besar, maka akan langsung mengarah ke pantai yang dapat menimbulkan abrasi. Ketika intensitas abrasi meningkat, kehidupan masyarakat dan lingkungan pun bisa ikut terancam. Salah satu ancaman itu ialah banjir rob.

Menurut kajian Inarisk, Pacitan merupakan salah satu wilayah dengan ancaman gelombang ekstrem dan abrasi dengan kategori sedang-menengah. Diperkirakan ada 12.437 jiwa yang akan terpapar gelombang ekstrem dan abrasi di Pacitan. Sebanyak 13 persennya merupakan kelompok rentan dari segi usia, ekonomi, hingga disabilitas.

Penggabungan indeks kelompok masyarakat rentan secara keseluruhan memberikan informasi bahwa kelas penduduk yang terpapar bencana gelombang ekstrem dan abrasi di Pacitan berada pada kelas tinggi.

Selain itu, diperkirakan masyarakat juga akan mengalami kerugian sebesar 75,14 miliar rupiah dan merusak 699,36 ha lingkungan hidup apabila terpapar gelombang ekstrem dan abrasi di Pacitan. Dengan demikian, secara keseluruhan Pacitan termasuk kategori kelas tinggi terpapar bencana gelombang ekstrem dan abrasi.

Belum lagi, hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa indeks kapasitas kesiapsiagaan Pacitan atas gelombang ekstrem dan abrasi merupakan indeks terendah dalam kapasitas kesiapsiagaan, yang sejajar dengan indeks gagal teknologi dan konflik sosial. (DMC DD/AFP)

LEAVE A REPLY