Kondisi Ukraina setelah diserang Rusia. (Foto: Reuters)

Ahli politik luar negeri Rusia, Bertil Nygren, mengungkapkan kebijakan luar negeri Rusia dibagi berdasarkan masalah yang dihadapi. Nygren kemudian membagi menjadi tiga kategori, yakni the European regional security sub-complex, the Caucasus regional sub-complex, dan the central Asian regional sub-complex.

Ukraina masuk dalam European regional security sub-complex, bersama dengan Belarus dan Moldova. Hal ini, karena wilayah ini sangat penting bagi Rusia di antara wilayah lainnya. Sebab, negara-negara ini memiliki perbatasan langsung dengan negara-negara Eropa yang dibawahi oleh Uni Eropa.

Rusia menganggap hal ini sebagai suatu ancaman dari perluasan NATO. Lalu, perlu diingat bahwa Rusia yang memiliki sumber gas alam terbesar di dunia, yakni 28 persen, menjadikan Ukraina dan Belarus sebagai wilayah transit sebelum akhirnya tiba di Eropa.

Obsesi Masa Lalu Rusia: Pihak Barat adalah Lawan

Di Ukraina, sejak akhir November 2004 hingga Januari 2005, serangkaian demonstrasi dan peristiwa politik terjadi segera setelah pemilihan presiden Ukraina 2004 pada pemungutan suara putaran kedua.

Kemenangan Viktor Yanukovych yang didukung oleh Rusia pada 2004 mengundang lebih dari setengah juta orang Ukraina untuk memprotes di Central Kyiv yang kemudian menjadi dikenal sebagai Revolusi Oranye.

Setelah Yanukovych digantikan oleh Viktor Yuschenko, Rusia menyadari orientasi pro-Barat Yuschenko. Deklarasi Yuschenko yang akan menjadikan Uni Eropa dan NATO sebagai prioritas utama menjadi alasan Rusia menyalahgunakan ketergantungan Ukraina pada pasokan energi Rusia, dengan menaikkan harga gas.

Yuschenko tidak bergeming terhadap ancaman Rusia, program latihan tahunan NATO akan berlangsung di semenanjung Krimea. Aksi ini kemudian ditanggapi oleh rakyat Krimea dengan demonstrasi yang mana 60 persen dari mereka adalah etnis Rusia dan penutur Bahasa Rusia.

LEAVE A REPLY