ZNEWS.ID, JERMAN – Negara-negara Eropa diprediksi segera menghadapi arus besar pengungsi dan migran yang bahkan akan lebih besar daripada pada puncak krisis pengungsi di tahun 2015.
Kekhawatiran itu disampaikan Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer kepada Surat Kabar berbahasa Jerman Welt am Sonntag, Ahad (6/10/2010). Ia mendesak negara-negara Eropa membantu Yunani dan Turki mengatasi krisis ini.
“Kita harus berbuat lebih banyak membantu mitra Eropa kita dengan kontrol di perbatasan eksternal UE. Kita telah meninggalkan mereka sendirian terlalu lama, ” ungkap menteri Seehofer yang akan segera mengadakan pertemuan yang melibatkan pemimpin Turki, Yunani dan Presiden Komisi UE Ursula von der Leyen, direncanakan akhir pekan ini.
Surat kabar Jerman Welt am Sonntag mengutip laporan komisi internal UE yang mengatakan bahwa lebih dari 46.000 pengungsi dan migran tiba di UE dari Turki pada akhir September, yang merupakan 23 persen lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dokumen yang sama mengatakan bahwa 25.000 lebih diprediksi akan datang pada akhir 2019.
Pada pertengahan September, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam akan membuka pintu perbatasan dengan Eropa jika Brussels tidak membantu Ankara dalam rencananya untuk menciptakan “zona aman” selebar 32 kilometer di dalam wilayah timur laut Suriah yang saat ini dipegang oleh milisi YPG Kurdi, yang mana Turki menganggap milisi tersebut sebagai kelompok teroris.
“Jika Anda tidak dapat menerima proposal ini, kami akan membuka gerbang. Biarkan mereka [pengungsi] pergi dari sana ke mana saja mereka mau, ”kata Erdogan kepada Reuters saat itu.
Seperti dilansir RT, Erdogan juga mengeluarkan teguran pedas ke UE dengan mengatakan bahwa bantuan keuangan yang diterima Turki dari Eropa tidak mencukupi dan bahwa negaranya telah menghabiskan USD40 miliar untuk menampung 3,6 juta orang, yang melarikan diri ke Turki sejak 2011 ketika konflik Suriah meletus.




























