Se’i, kuliner khas Pulau Timor. (Foto: instagram.com/seisapilamalera)

ZNEWS.ID JAKARTA – Ketika Anda mampir ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak lengkap rasanya kalau belum mencicipi kuliner se’i. Se’i artinya daging tipis yang diiris memanjang.

Kuliner khas Pulau Timor itu, di daerah asalnya banyak memakai daging babi. Ketika penganan ini mulai populer di daerah lain, maka penjual se’i menggantinya dengan daging sapi. Sepanjang, masih menggunakan teknis memasak dan racikan yang sama untuk mempertahankan cita rasa autentiknya.

Se’i diolah menggunakan teknik mematangkan daging dengan menggunakan arang yang diletakkan jauh dari tempat pemanggangannya. Jarak antara tempat meletakkan daging dengan arang bisa sampai dua meter. Resep agar asap tidak meresap ke daging dan memengaruhi rasa daging.

Cara tersebut berasal dari teknik memasak tradisional Suku Molo, masyarakat Kepulauan Timor, khususnya wilayah Timor Barat dan Timor Tengah Selatan. Suku Molo yang tinggal di Pegunungan Mutih, wilayah Timor Tengah Selatan, melakukan se’i dengan meletakkan daging di atas bara tanpa asap sama sekali.

Tungku untuk menyalakan bara api terpisah dengan tempat mematangkan daging. Bara api harus terus menyala tanpa dikipas agar tidak menghasilkan asap. Memasaknya bisa berjam-jam bahkan sampai berhari-hari.

Supaya bara pada arang awet, Suku Molo menggunakan kayu kosambi yang tebal dan besar. Mereka juga menggunakan daun kosambi sebagai penutup daging agar matang sempurna. Daun kosambi berfungsi sebagai penahan panas saat daging sedang disei sekaligus menjaga rasa dan warna asli daging agar tetap merah.

Se’i yang asli juga tidak menggunakan garam. Pasalnya, Suku Molo sebagai orang pegunungan tidak mengenal garam. Garam dibawa oleh orang pesisir. Oleh karena itu, di Molo, se’i dibuat tawar.

LEAVE A REPLY