
ZNEWS.ID JAKARTA – Dompet Dhuafa menggulirkan webinar spesial Ramadan ‘Festival Berkebun di Kota’ yang disiarkan secara langsung via aplikasi daring Zoom Us dan YouTube, awal pekan lalu.
Bertema ‘Kebun Pangan Keluarga’ mudah nan praktis, Budikdamber (Budidaya Ikan Dalam Ember) Ikan Lele dan Tanaman Kangkung, webinar dimoderatori oleh Reita Annur, SPV Program Ekonomi Dompet Dhuafa.
Dengan menghadirkan narasumber Sudarmanto, Praktisi Budikdamber dan Sulaiman, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Waspada Sumatera Utara.
Pada sesi pemateri, Sudarmanto menjelaskan tahapan pembuatan Budikdamber ikan Lele dan tanaman Kangkung.
Tahap pertama yakni menyiapkan peralatan dan bahan berupa ember ukuran 80 liter untuk tebar benih sebanyak 60-100 ekor lele, cup gelas untuk tanaman aquaponik, kawat drat untuk menggantung cup, tang buaya, solder untuk melubangi ember dan cup, juga kran galon sebagai saluran pembuangan air.
“Tahap kedua adalah intsalasi media. Lubangi ember, untuk memasang kran pembuangan air juga amoniak sisa kotoran ikan. Kemudian lubangi cup, untuk serapan nutrisi akar tanaman,” terang Sudarmanto.
Lalu, kaitkan kawat pada cup tanaman di permukaan ember. Juga, beri arang agar menunjang benih atau batang kangkung dan berfungsi sebagai penetralisir tanaman.

Tahap ketiga yaitu media air dan pemeliharaan. Sudarmanto menjelaskan, sebelum tebar benih ikan, lakukan treatment cairan probiotik. Kemudian, endapkan air selama dua hari, lalu ukur Ph air.
“Ph air idealnya 7 keatas. Barulah kita bisa tebar benih lele ukuran 7-9 cm. Treatment probiotik ini dilakukan seminggu sekali, satu sendok makan, sekaligus kita kuras air. Jangan lupa, ember juga harus terkena sinar matahari,” ujarnya.
Dalam tahap keempat, Sudarmanto memberi rekomendasi untuk melakukan sortir pada ikan lele. Pisahkan lele sesuai ukuran kecil, sedang, dan besar.
“Ancaman risiko budikdamber lele selain predator dari luar, yakni dari sifat kanibalisme lele sendiri. Lele dengan ukuran lebih besar, akan memangsa lele yang berukuran kecil. Untuk meminimalisasinya, dengan memberi pangan sedikit tapi sering dan lakukan sortir,” katanya.
Sudarmanto juga membeberkan tips teknis perawatan Budikdamber (Budidaya Ikan Dalam Ember) pada Ikan Lele dan Tanaman Kangkung.
“Harga bibit lele sekitar Rp 115.000, pakan pelet awal (kecil) Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Ini mencapai empat kg per panen. Ikan lele diketahui memiliki salah satu nutrisi protein yang baik. Dari yang dijual pada umumnya, ikan lele hasil budikdamber bisa 50% lebih murah harganya,” terangnya.
Dalam pemberian pakan, Sudarmanto merumuskan, 9-3-9, yakni pukul 9 pagi, 3 sore, dan 9 malam. Alternatif pakan yang dapat diberikan yaitu pelet, cacing, magot (lava lalat), azola (tanaman paku-pakuan), dengan porsi sesuai respon lele, bukan bobot lele.

“Prinsip yang saya lakukan sedikit tapi sering. Jadi, kita lihat respon lele, jika reaktif maka kondisi lele masih lapar,” ujar Sudarmanto.
Ia menambahkan, salah satu indikator lele kurang sehat juga dapat dilihat jika kepala lele mengambang berada di atas air. Hal itu berarti air dalam kondisi kurang oksigen dan kotor.
Masa panen Budikdamber ikan lele adalah setelah dua bulan. Berukuran 18-20 cm dengan bobot 100 gram. Sedangkan tanaman kangkung, panen dalam masa 14 hari.
Ia juga mengatakan, sebaiknya gunakan bibit kangkung batang, bukan benih karena lebih praktis, lebih cepat, risiko lebih sedikit dari mulai benih. Untuk benih lele, bisa gunakan lele selektif sangkuriang.
Selain itu, ia merekomendasikan probiotik E4 karena harganya lebih murah, yakni sekitar Rp 20.000. Fungsi probiotik tersebut adalah sebagai penambah nutrisi dan starter bakteri.
Berikan 1 mili/pekan (untuk 100 pekan), atau bisa membuat sendiri menggunakan yakult, kapur sirih, garam dan daun pepaya yang di blender. Ia pun membuat sistem bejana berhubungan untuk membersihkan atau menguras air.
“Ikan lele memiliki kalori 240 gr, lemak 14,3 gr, karbo 8,5, protein 17,5 gr. Hal tersebut berarti ikan lele tidak kalah dengan potensi ikan laut tuna dan tongkol,” tutur Sudarmanto.

Sementara, Sulaiman, Pimpinan Dompet Dhuafa Cabang Waspada Sumatera Utara, menjelaskan bahwa Budikdamber adalah pilihan mudah nan praktis. Tanpa listrik, tidak perlu lahan yang luas, bisa panen sayur dan lauk. Modal hanya sekitar Rp 200.000.
“Melalui program ekonomi Dompet Dhuafa Waspada, kami fasilitasi mustahik dan mendampingi cara pembuatannya. Para mustahik langsung didampingi di rumahnya masing-masing dan selalu memberi progres terkini,” ungkapnya.
Beranjak dari hobinya di rumah sejak tujuh bulan lalu, Sulaiman telah mendapati tiga kali panen. Sehingga, ia terpikir agar Budikdamber tersebut dapat bermanfaat, terutama bagi dhuafa. Mereka bisa panen sayur dan lauk sebagai bahan pangan mereka tanpa membeli.
“Jadi, selain bantuan sembako, melalui kebun pangan keluarga, para mustahik yang di rumah saja ketika terdampak masa pandemi bisa menghilangkan kejenuhan. Juga, bermanfaat untuk ketahanan hidup,” kata Sulaiman.
Selain merupakan ketahanan pangan skala keluarga yang mudah nan praktis, menurutnya, Budikdamber bisa untuk berbisnis. Tapi, tentu berbeda jika skalanya lebih besar.
Sulaiman juga memberi rekomendasi bahwa selain bibit ikan lele dan tanaman kangkung, Budikdamber sejenis bisa juga dilakukan dengan bibit ikan patin dan tanaman daun bawang.
“Intinya, Budikdamber bisa menjadi kemandirian awal pangan dari keluarga sendiri. Sehingga, menjadi kekuatan pangan dan ekonomi keluarga dan berbagi pada warga sekitar,” kata Sulaiman.
Oleh: Dhika Prabowo
Editor: Agus Wahyudi


























