Kebun Pangan Keluarga Dompet Dhuafa Riau. (Foto: DD Riau)

ZNEWS.ID JAKARTA – Pada masa pandemi banyak masyarakat panik dan khawatir tak bisa menutupi kebutuhan pangan. Melihat kekhawatiran tersebut, Ramadan Guru Nusantara edisi ke 11 menghadirkan Kiat Mengelola Ketersediaan Pangan di Rumah dan Lingkungan Sekitar.

Materi ini dibawakan oleh Ade Munawar Luthfi, Aktivis SGI dan Coordinator Team Research Communication and Development Sekolah Cendekia Baznas.

Berawal dari kepeduliannya terhadap masyarakat di lingkungan jabodetabek yang khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan, terlebih setelah diberlakukan PSBB, Ade memberikan penjelasan bahwa ini bukan kepanikan ketersediaan pangan, tapi momen untuk menciptakan alternatif ketahanan pangan. Salah satunya, dengan mengoptimalkan pekarangan.

Pada siaran langsung Ramadan Guru Nusantara belum lama ini, Ade mengatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menopang ketahanan pangan berdasarkan konsep FAO dan WHO, yaitu Food Availability (ketersediaan), Food Access (kemudahan), dan Food Utilization (kegunaan) (Mercy Corps, 2008).

“Ketahanan pangan adalah cerminan kemandirian suatu bangsa. Dan, pertahanan dimulai dari pekarangan rumah kita sendiri, bisa bermanfaat untuk kita dan lingkungan,” kata Ade, dilansir dari sekolahguruindonesia.net, Senin (4/5/2020).

Ia juga menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga, yaitu:

1. Menentukan kebutuhan pangan dengan memerhatikan jumlah anggota keluarga di rumah.

2. Memerhatikan kandungan gizi pangan (Protein, Karbohidrat dan Vitamin).

3. Memastikan ketersediaan sarana-prasarana untuk memasak termasuk alternatif bahan bakarnya.

4 Menentukan lahan untuk digunakan menam tanaman lokal.

5. Menyediakan media tanam, tentunya bagi yang tidak punya pekarangan lias bisa menggunakan poly bag, menanam hidroponik, atau memanfaatkan barang-barang bekas yang di isi tanah sebagai media tanam.

6. Memilih bibit tanaman yang dapat dipanen dalam waktu singkat (20-30 hari) seperti bayam, selada, sawi. Kemudian menanam tanaman yang masa berbuahnya panjang seperti cabai, rawit, tomat, dan Lain-lain.

7. Penyemaianan benih dan pemupukan. Penyemaian dilakukan dengan menyiram tanaman pagi dan sore hari, Pemupukan bisa memanfaatkan sampah makanan dari dapur seperti bekas potongan sayuran, pupuk kandang, dan lain-lain.

8. Perawatan dan panen.

Ade mengatakan, sebagai makhluk sosial, tentu kita tidak tenang jika hanya memastikan ketahanan pangan rumah sendiri. Kita perlu melihat dan bekerja sama dengan lingkungan sekitar untuk sama-sama memastikan ketahanan pangan di lingkungan.

“Dengan demikian, penting bagi kita membangun relasi sosial, solidaritas, kepekaan sosial, dan partisipasi masyarakat dalam rangka menjaga ketahanan pangan lingkungan,” ujarnya.

Hal ini bisa dimulai dengan berkoordinasi dan berkolaborasi dengan kepala RT di masing-masing daerah untuk membangun sistem ketahanan pangan tingkat desa (RT/RW). Bersama kepala RT masing masing, mulailah mengklasifikasikan kemampuan ketahanan pangan keluarga; rentan, berkecukupan, dan sangat berkecukupan.

“Selanjutnya, kita bersama pimpinan di lingkungan perlu membangun kesadaran individu dan kolektif untuk menjaga ketahan pangan lingkungan dengan menyusun program pemberdayaan, seperti mengadakan penyuluhan ketahanan pangan dengan mengoptimalkan pekarangan kepada masyarakat,” terang Ade.

Menurut Ade, ada beberapa hal yang perlu diinformasikan kepada masyarakat, di antaranya:

1. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan pemanfaatan tanaman lokal.

2. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan penyimpanan cadangan pangan, seperti makanan apa saja yang bisa disimpan dengan durasi lama, di antaranya beras dan umbi-umbian. Juga, makanan apa saja yang bisa disimpan dengan durasi singkat; sayur bayam, kangkung. Sehingga, mereka bisa merencanakan cadangan pangan dalam kurun waktu tertentu.

3. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan system pertanian dengan lahan terbatas terutama untuk daerah padat penduduk, menanam bisa dengan cara hidroponik, menanam di polybag, dan lain-lain.

4. Optimalisasi lahan pekarangan di sekeliling rumah, tanaman baik ditanam di tempat yang dapat tersinari matahari, pilihlah posisi yang tepat agar anda bisa menanam dengan optimal.

5. Masyarakat perlu mengetahui tumbuhan atau hewan yang bisa ditanam atau dipelihara di pekarangan untuk menjaga ketersediaan pangan, seperti bawang, daun bawang, tanaman buah, cabai, tomat, umbi-umbian (singkong, kentang, ubi jalar), sayur-sayuran dengan masa panen singkat (sawi, bayam, kangkung, selada), bumbu-bumbu, (jahe, kunyit, kencur, lengkuas, sereh, dan lain-lain), Ikan, Unggas.

“Selain itu, kita juga bisa bekerja sama dengan para hartawan dan dermawan yang ada dilingkungan dengan melakukan program pendampingan satu keluarga berkecukupan terhadap satu keluarga rentan pangan,” kata Ade.

Program bakti sosial lainnya yang dapat dikreasikan oleh masyarakat untuk bisa bersama sama menjamin keberlangsungan hidup keluarga yang rentan ketahanan pangannya, minimal tetangga terdekatnya.

Masyarakat juga diharapkan memilih berbelanja di warung-warung tetangga dibandingkan panik memborong makanan di supermarket, sebagai upaya menyejahterakan tetangga-tetangga dan upaya kita menghindari kontak dengan orang yang tidak kita ketahui di supermarket.

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY