Ilustrasi kejahatan siber. (Foto: Pixabay)

Kasperksy melihat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari segi keamanan siber, antara lain digitalisasi, sektor kesehatan, dan penggelaran 5G di sejumlah negara.

Popularitas bekerja dari rumah, atau work from home, meningkat sejak pandemi. Secara otomatis, karyawan membutuhkan jaringan yang aman untuk terhubung ke jaringan kantor mereka, misalnya dengan menggunakan VPN.

Ketergantungan pada VPN, menurut Kaspersky, membuka potensi serangan, misalnya menggunakan rekayasa sosial, social engineering, untuk mendapatkan akses ke VPN perusahaan.

Pada sektor kesehatan, Kaspersky melihat adanya peningkatan serangan terhadap fasilitas medis di berbagai negara, terutama untuk pengembangan vaksin.

Di Asia Tenggara, perusahaan tersebut juga melihat tren penggunaan aplikasi telemedis naik. Tren ini juga dibayangi ancaman siber mengingat semakin banyak data pasien yang berada di dunia maya.

Berkaitan dengan rencana jaringan 5G di sejumlah negara di Asia Tenggara, Kaspersky melihatnya sebagai potensi serangan di permukaan karena perangkat lunak lebih mudah diakses dan lebih mudah ditemukan kerentanannya.

Teknologi 5G menitikberatkan fungsi operasional pada perangkat lunak dibandingkan perangkat keras.

Sektor lainnya yang perlu diperhatikan menurut Kaspersky adalah pemilihan umum, yang berpotensi diwarnai disinformasi di dunia maya. Serta, ransomware yang diperkirakan masih akan naik tahun ini, baik dari angka serangan maupun jumlah uang tebusan yang diminta peretas.

Editor: Agus Wahyudi
Sumber: Antara

LEAVE A REPLY