RADANG pernafasan akibat infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae (Mp) yang menyerang anak-anak di China beberapa bulan terakhir ini ternyata dilaporkan sudah memapar sejumlah anak di wilayah DKI Jakarta.
Ada sekitar 200 bakteri mycoplasma yang menyebabkan infeksi di berbagai bagian tubuh mulai dari paru-paru, kulit dan saluran kemih, tergantung dari jenisnya, sementara bakteri mycoplasma pneumoniae menyebabkan infeksi paru-paru.
Sekitar sepertiga orang yang terinfeksi bakteri Mp mengalami gejala ringan sehingga disebut “walking pneumoniae” dan penyakit ini disebut juga pneumoniae atypical karena sebagian besar pasien terutama anak-anak menderita “trakebronchitis” atau nyeri dada.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi baru Rabu pekan lalu (29/11) mengingatkan perlunya langkah antisipasi dan mitigasi untuk mencegahnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta berdasarkan tes polymerase chain reaction (PCR) menerima laporan adanya anak yang terpapar.
Mp menjadi salah satu penyebab naiknya kasus-kasus pneumonia di China, sementara Kepala Seksi Surveilance Epidemiologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta Ngabila Salama menyebutkan, sudah ada beberapa anak yang terinfeksi bakteri Mp berdasarkan hasil tes PCR.
Jumlah anak yang terpapar, menurut dia masih dihitung, karena diperlukan pemeriksaan lebih spesifik untuk mendeteksi keberadaan material genetic suatu bakteri atau virus. Pasien yang terpapar bakteri Mp mengalami gejala sesak nafas dan diperlukan perawatan jika kondisinya memburuk.
Sejumlah virus penyebab pneumonia pada anak antara lain influenza, adenovirus dan respiratory synctical virus (RSV) yang banyak menginfeksi anak.
Selain itu, kata Ngabila, dalam kasus Mp bisa terjadi infeksi sekaligus atau lebih dari satu virus yang menginfeksi anak sehingga dikategorikan sebagai pneumonia atipikal yang sulit didiagnosis dan diperlukan antibiotik kelas tinggi seperti makrolid atau azithtromycin.
Peningatan kewaspadaan, kata Imran, ditujukan pada dinas-dinas kesehatan di provinsi, kabupaten dan pemerintah kota, RS, kantor kesehatan pelabuhan dan puskesmas di seluruh Indonesia terhadap manusia, alat angkut, lingkungan, vector dan satwa pembawa penyakit.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejauh ini belum menemukan pathogen baru penyebab lonjakan kasus penyakit pernafasan di China, sedangkan otoritas negara itu menyebutkan, 40 persen kasus infeksi pernafasan disebabkan bakteri Mp.
Sedangkan Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, lonjakan kasus-kasus pneumonia di China terjadi akibat kondisi masyarakat dan lingkungan yang membuat patogen-patogen hidup, bukan seperti Covid-19 atau virus ebola yang baru muncul.
Sedangkan kematian terbesar akibat pneumonia, menurut anggota staf Divisi Respirologi Dept. Ilmu Kesehatan Anak FK-UI Nastiti Kaswandani terjadi akibat paparan Streptococcus pneumoniae.
Pelacakan atau surveillance dalam upaya pencegahan menyebarnya paparan virus Mp perlu diintensifkan.



























