Peserta Sekolah Dai Pemberdaya dibekali materi “Bisnis Model Pemberdayaan” yang berlangsung di Wisma Syahida Inn, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Selasa (8/11/2022). (Foto: Cordofa)

ZNEWS.ID TANGSEL – Memasuki pekan kedua gelaran program Sekolah Dai Pemberdaya yang berlangsung di Wisma Syahida Inn, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Selasa (8/11/2022), para peserta dibekali materi “Bisnis Model Pemberdayaan”.

Narasumber pada sesi kali ini adalah Senior Officer Layanan Sosial Dompet Dhuafa, Ustaz Kamaludin. Seluruh audiens diberikan pemaparan teori dan ditantang mempraktikkan secara langsung apa yang mereka pelajari berupa rancangan model pemberdayaan dengan timbal balik dari pemateri.

Menurut Kamaludin, program mesti serangkaian rencana yang dibuat untuk dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu. Lahir dari kesadaran memahami substansi dan posisi diri, serta esensi dan posisi lembaga, perpaduan kesadaran diri dan kelembagaan, dan social intelligent alias memahami semua pertimbangan pada poin-poin sebelumnya.

“Dasar perencanaan terdiri dari empat tahap, ide atau gagasan program masalah sosial, studi kelayakan identifikasi dan need assessment, pengembangan model intervensi dipilih untuk dasar menyusun desain program, dan penyusunan rancangan atau desain program dengan kerangka logis analisa dan matrik perencanaan,” kata Kamaludin.

Ia juga menawarkan konsep Business Model Canvas (BMC) alias strategi dalam manajemen yang terkenal akan fungsinya yang memudahkan wirausaha untuk menuangkan ide bisnis dalam satu bagan sederhana.

Berupa visual chart dalam sembilan elemen yakni segmen konsumen, proposisi nilai, saluran/media, hubungan konsumen, revenue stream, sumber daya utama, kegiatan utama, segmen pelanggan, dan stuktur biaya.

“Desain rancangan program merumuskan tujuan akhir yang akan dicapai (goal), tujuan antara yang akan dicapai (purpose), keluaran (output), kegiatan (activites), indikator dan alat verifikasi untuk monitoring dan evaluasi, asumsi atau resiko yang perlu diperhatikan, dan masukan (input),” ujar Kamaludin.

LEAVE A REPLY