Ilustrasi lansia tidur. (Foto: oversixty.com.au)

“Kalau orang muda, mereka lebih gampang bilang sedih atau tidak semangat. Kalau pada lansia lebih susah mengekspresikan apa yang dirasakan apalagi kalau ada demensianya,” ujar Anastasia.

Menurutnya, ada lansia mengeluh bukan ke mood yang sedih, tapi merasakan rasanya capek terus-terusan atau fisik. Jadi, kata dia, depresi pada lansia meski bermakna namun sulit terdeteksi.

Lansia yang mengalami gejala depresi dapat menurunkan minat dan aktivitas fisiknya. Sehingga, cenderung lebih memilih berbaring saja yang dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan hipertensi yang memang sudah dialami.

Selain itu, depresi pada lansia juga akan mempengaruhi hormon stres kortisol di mana menurunnya jumlah sel imun dan respon imun, naiknya gula darah dan kerusakan oksidatif yang memperberat gangguan kognitif.

Untuk mengatasi masalah depresi pada lansia, Anastasia menyarankan untuk memberikan antidepresan dan dilihat perkembangannya. Jika tidak membaik, kemungkinan lansia tersebut mengalami demensia sungguhan, maka harus dikonsultasikan kepada spesialis saraf untuk tatalaksana demensia.

Sedangkan, pada gangguan tidurnya bisa dilakukan edukasi tidur higiene, yakni sebelum tidur, misal mengatur kondisi kamar tidur tetap sejuk dan tenang, mandi air hangat dan sikat gigi. Jika masih mengalami masalah sulit tidur, bisa dibantu dengan obat tidur. Sebab, jika tidak dampaknya bisa lebih parah.

“Kemudian, dievaluasi apakah gangguan perilaku yang signifikan mengganggu. Misalnya, ada yang mengganggu seperti pasien enggak mau minum obat, curiga sama keluarga bisa dipertimbangkan pemberian antipsikotik dosis kecil. Untuk pasien harus dilakukan psikoterapi,” kata Anastasia.

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY