Ilustrasi Wakaf dan Cahaya Harapan di Era Baru Kepemimpinan. (Foto: nabire.net)

Oleh: Iman Nur Azis (Ketua Asosiasi Nazir Indonesia), Jaharuddin (Dosen FEB UMJ)

ZNEWS.ID JAKARTA – Indonesia memasuki babak baru, Presiden Prabowo yang mengemban amanah sebagai pemimpin negeri dengan penuh harapan. Kabinet baru terbentuk, menteri-menteri dan wakil menteri dilantik, menandakan arah baru yang hendak diambil untuk membawa negeri ini menuju masa depan yang lebih gemilang.

Optimisme menggema, laksana fajar yang terbit membawa sinar hangat di pagi hari, menandai awal baru yang penuh potensi. Di tengah riuh rendah peralihan ini, terselip satu mimpi besar yang terus menggetarkan dada para pelaku ekonomi syariah: pengembangan wakaf sebagai pilar penting dalam ekonomi nasional.

Namun, langkah kita masih panjang. Dalam gemuruh penyusunan kabinet, kata “wakaf” belum benar-benar menjadi perhatian utama. Belum ada kejutan munculnya kementerian wakaf atau wakil menteri yang secara khusus menangani keuangan sosial Islam.

Tetapi, kita tak boleh berhenti pada kekecewaan kecil. Seperti biji yang ditanam, wakaf membutuhkan waktu untuk bertumbuh. Hari ini mungkin belum, tetapi esok, siapa yang tahu?

Wakaf adalah harapan yang merangkul kepedulian, gotong royong, dan keberlanjutan. Ini bukan hanya tentang harta benda yang diabadikan, melainkan tentang menabur kebajikan yang terus berbuah, memberi manfaat bagi generasi demi generasi.

Di tengah derasnya agenda-agenda besar yang kini disusun, wakaf tetap memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan perubahan sosial dan ekonomi yang berdampak mendalam.

Presiden baru telah menyusun kabinet merah putih yang diisi oleh 109 tokoh dengan berbagai latar belakang, siap untuk bekerja bahu-membahu. Keberagaman ini adalah kekuatan. Setiap individu membawa harapan baru, termasuk dalam membangun ekonomi yang lebih adil dan berkeadaban.

LEAVE A REPLY