
Beliau juga tersenyum karena gembira, karena melihat sesuatu yang menggembirakan atau ikut dalam kegembiraan itu.
Tapi, ada kalanya beliau tersenyum justru pada saat yang seharusnya beliau marah. Beliau tersenyum karena dapat menguasai rasa amarah.
Sedangkan tangis beliau juga tidak berbeda jauh dengan senyum beliau. Tidak dengan sedu sedan, ratapan, dan suara, sebagaimana tawa beliau yang tidak disertai suara mengakak, tapi hanya berupa senyuman.
Saat menangis, air mata beliau menalir hingga bercucuran dan dari dada terdengar suara menggelegak.
Tangis beliau terkadang karena gambaran kasih sayang kepada orang yang meninggal dunia. Terkadang karena rasa takut atas umatnya dan rasa sayang.
Terkadang, karena takut kepada Allah. Terkadang saat mendengar Al Qur’an, yang merupakan tangis cinta dan pengagungan, yang disertai rasa takut dan kuatir.
Ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia, maka kedua mata beliau menangis dan mengucurkan air mata, sebagai luapan kasih sayang kepadanya. Beliau bersabda saat itu:
“Mata bisa berlinang air mata, hati bisa bersedih, namun kami tidak mengatakan kecuali yang membuat Rabb kami rida. Sesungguhnya kami benar benar bersedih atas kematianmu wahai Ibrahim.” (Ditakhrij Al Bukhari dan Ahmad)





























