
ZNEWS.ID JAKARTA – Mobil listrik kini menjadi perhatian publik. Di tengah mulai trennya penggunaan kendaraan yang diklaim ramah lingkungan ini, komponen baterai menjadi kendala utama dalam pengembangan industri kendaraan listrik.
Harga baterai yang masih mahal dan power density menjadi tantangan bagi para periset dalam melakukan inovasi pengembangan mobil listrik.
“Power density adalah untuk mengetahui besaran energi yang bisa ditampung di baterai tersebut. Hal ini yang mengakibatkan kendaraan lebih berat. Maka, perlu inovasi di baterai untuk menurunkan harga, dengan ukuran yang lebih ringan,” ungkap Kepala Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cuk Supriyadi Ali Nandar, dilansir dari laman resmi BRIN.
Cuk optimistis tren penggunaan kendaraan listrik akan berkembang, khususnya di Indonesia dalam 5 hingga 10 tahun mendatang. Pihaknya juga bekerja sama dengan PLN dalam mengembangkan battery swab (teknologi tukar baterai) kendaraan listrik.
“Seperti ojek online yang sudah banyak menggunakan motor listrik, mereka pakai battery swab, tinggal ganti baterainya, langsung bisa jalan lagi,” katanya.
Regulasi yang ada, lanjut Cuk, sudah mendukung ke arah percepatan program kendaraan bermotor listrik. Perpres Nomor 55 tahun 2019 telah mengatur bahwa industri harus concern terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Pada 2023, TKDN kendaraan roda empat harus mencapai 40 persen. Kemudian, 2024 hingga 2029, TKDN harus meningkat menjadi 60 persen.
“Regulasi TKDN ini untuk kendaraan listrik, 20 persennya dari kegiatan riset. Jadi mau tidak mau, untuk menaikkan TKDN, industri kendaraan listrik harus berkolaborasi dengan lembaga riset,” ungkapnya.




























