
ZNEWS.ID, JUBA – Perdamaian yang telah lama dirindukan tengah diupayakan di Sudan. Negara di Afrika yang terus berkonflik dengan para pemberontak dan telah memporakporandakan negeri itu dengan perang saudara.
Pemerintah Sudan, yang berbagi kekuasaan, pada Senin waktu setempat akhirnya menandatangani perjanjian perdamaian bersejarah dengan lima kelompok pemberontak utama negara itu.
Kesepakatan itu menjadi langkah penting dalam penyelesaian konflik, yang telah mengakar dan berkecamuk di bawah mantan pemimpin Sudan Omar al-Bashir.
Para pemimpin sipil dan militer, yang berbagi kekuasaan setelah Bashir digulingkan pada April 2019, mengatakan bahwa mengakhiri konflik internal selama puluhan tahun merupakan prioritas utama pada masa peralihan selama 39 bulan.
Kesepakatan itu, yang ditandatangani di ibu kota Sudan Selatan, Juba, berisi tawaran bagi kelompok-kelompok pemberontak untuk memiliki perwakilan politik dan kekuasaan yang dilimpahkan.
Mereka juga ditawari masuk menjadi bagian dari pasukan keamanan, memiliki hak-hak ekonomi dan tanah, serta kesempatan untuk kembali bagi para pengungsi.
Kelompok-kelompok yang menandatangani perjanjian itu termasuk Justice and Equality Movement (JEM) dan Minni Minawi’s Sudan Liberation Army (SLA) — keduanya dari wilayah barat Darfur, serta Sudan People’s Liberation Movement-North (SPLM-N) pimpinan Malik Agar, yang berada di Kordofan Selatan dan Nil Biru.




























