
Kala itu, Nabi Ibrahim meninggikan bangunan Ka’bah hingga 7 hasta, dengan panjang 30 hasta, dan lebar 22 hasta. Sementara itu, pendapat lain menyebutkan kalau tinggi Ka’bah yang sebenarnya adalah 9 hasta. Di masa itu, Ka’bah belum dilengkapi dengan atap.
2. Pembangunan Ka’bah oleh Kaum Quraisy
Kedua, pembangunan Ka’bah dikerjakan Kaum Quraisy. Beberapa tahun sebelum Rasulullah Saw diangkat menjadi Nabi, banjir bandang menerjang Makkah hingga menyebabkan sebagian dinding Ka’bah roboh.
Kaum Quraisy kemudian membangun kembali Ka’bah yang rusak tersebut. Nabi Muhammad yang saat itu diperkirakan berusia 35 tahun, juga turut serta dalam pembangunan Ka’bah.
Beliau mengangkut batu di atas pundaknya dengan beralaskan selembar kain. Beliau bahkan sempat tersungkur ketika membawa batu-batu tersebut.
Saat pembangunan selesai, suku-suku berselisih untuk menentukan suku mana yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempat asalnya. Nabi Muhammad kemudian mengusulkan agar Hajar Aswad ditaruh di atas selembar kain.
Kemudian, perwakilan dari suku-suku yang berselisih itu masing-masing memegang ujung kain untuk kemudian mengarahkan batu hitam itu ke tempat semula. Pada akhirnya, semua orang sepakat dengan usul Nabi Muhammad.
Pada pembangunan kedua ini, Ka’bah ditinggikan hingga 18 hasta, namun panjangnya dikurangi menjadi sekitar 6,5 hasta (dari sebelumnya 30 hasta). Ka’bah dibiarkan dalam area Hijir Ismail.
Sebetulnya Nabi Muhammad “tidak sepakat” dengan pembangunan Ka’bah yang dilakukan Kaum Quraisy. Pasalnya, pembangunan tersebut mengubah posisi Ka’bah sebagaimana ketika dibangun Nabi Ibrahim.





























