Ilustrasi: Dompet Dhuafa Jawa Timur kembali melaksanakan pelatihan penguatan SDM petani di wilayah Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Selasa (29/3/2022). (Foto: DD Jatim)

Oleh: Entang Sastraatmadja (Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat)

ZNEWS.ID JAKARTA – Tanggal 24 September 2022, kembali bangsa ini memperingati Hari Tani Nasional. Para petani di seluruh Indonesia merayakannya. Tanggal 24 September adalah pengingat bahwa pada tanggal itu di tahun1960, Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno menetapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

Memperingati Hari Tani, tentu  tidak lepas dengan kiprah petani. Menurut Ir Soekarno, petani merupakan akronim dari Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Kepanjangan yang khusus disematkan untuk kata ‘petani’ tersebut disampaikan pertama kali pada tahun 1952.

Pada peringatan Hari Tani Nasional saat ini, ada satu persoalan besar yang perlu dijadikan permenungan, yakni masalah regenerasi petani yang  sudah menunjukkan “lampu merah”, mengkhawatirkan.

Oleh sebab itu, menjadi cukup relevan jika hal ini menjadi bahasan serius secara sungguh-sungguh agar diperoleh jalan keluar terbaiknya.

Regenerasi petani saat ini kembali ramai dibincangkan para pihak. Semakin enggannya kaum muda untuk berprofesi sebagai petani, membuat para pengambil kebijakan di sektor pertanian, sedikit kebingungan untuk mencari generasi penerus yang bakal berkiprah menjadi petani di negeri agraris ini.

Di sisi lain, para petani yang sekarang ini ada, rata-rata sudah berumur di atas 50 tahun. Satu dasa warsa ke depan, mereka akan dimakan usia dan sangat sulit untuk bekerja lebih produktif. Itu sebabnya, bangsa ini tidak boleh bermain-main lagi dengan urusan regenerasi petani.

Sebab, sekali saja keliru dalam menerapkan kebijakan, boleh jadi akan membawa dampak buruk bagi masa depan pembangunan pertanian di Tanah Air. Kerisauan akan adanya fenomena anak muda enggan jadi petani sebetulnya telah mengemuka sejak 40 tahun lalu.

LEAVE A REPLY