
Oleh: Fatchuri Rosidin (Direktur Inspirasi Melintas Zaman)
ZNEWS.ID JAKARTA – Siang itu, kapal dagang dari Jawa merapat di Pelabuhan Ternate, ibu kota Kerajaan Gapi. Seperti kapal dagang lainnya, mereka biasanya akan berlabuh beberapa minggu dan melakukan transaksi perdagangan.
Ternate merupakan kota pelabuhan paling timur dalam gugusan pulau penghasil rempah-rempah terbaik dunia. Tak heran banyak kapal-kapal dagang dari Jawa, Goa, Banjar, Malaka, India, hingga Arab yang berlabuh di Ternate.
Di antara rombongan kapal dagang itu, ada seorang ulama muda bernama Maulana Husein. Ia datang untuk berdakwah di wilayah kerajaan Gapi. Sebagai seorang muslim, adalah kebahagiaan besar jika bisa menjadi jalan sampainya hidayah bagi orang lain.
Maulana Husein memutuskan untuk menetap di Kota Ternate. Sebagai kota pelabuhan internasional, masyarakatnya lebih terbuka dengan orang asing yang datang seperti dirinya.
Kerajaan Gapi berdiri 1257; hasil dari penggabungan empat klan yang masing-masing dipimpin oleh seorang momole. Setelah bergabung, mereka memilih seorang momole menjadi kolano atau raja.
Ternate ditetapkan sebagai ibu kota. Persekutuan empat klan ini memperkuat Gapi. Wilayahnya terus berkembang tak hanya di Maluku bagian utara, tapi juga meluas ke timur hingga Sulawesi bagian utara, timur, dan tengah.
Di utara, wilayah Gapi sampai ke bagian selatan kepulauan Filipina. Gapi bahkan pernah menaklukkan Kepulauan Marshall di Samudra Pasifik, sebelah timur laut Papua Nugini. Meski namanya tak seterkenal Majapahit, Kerajaan Gapi merupakan kerajaan terbesar di Nusantara bagian timur.
























