Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa melalui Program Dakwah Nasional, Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa), menggelar kegiatan bertajuk “Rihlah Mualaf dan Gerakan Cinta Sejarah Islam (GCSI)” di Pondok Pesantren Suryalaya, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat hingga Sabtu (29-30/9/2023). (Foto: Dompet Dhuafa)

Para peserta juga diajarkan cara menggunakan serta mempraktikkan talqin zikir dan berziarah langsung ke makam pendiri Pondok Pesantren Suryalaya.

“Hari ini ada beberapa agenda, yaitu arahan talqin zikir. Jadi, kita diijazahkan talqin zikir supaya zikir kita mengena di kalbu, bukan hanya di lisan saja. Sehingga, itu yang akan memberikan semangat baru secara spiritual agar kita bisa mencintai Allah dengan sepenuh hati dan kemahakuasaan Allah dengan segenap jiwa. Kita diagendakan langsung untuk berziarah ke makam pendiri Pondok Pesantren Suryalaya,” kata Awang.

Ero Koswara selaku perwakilan Pondok Pesantren Suryalaya, mengapresiasi kunjungan Dompet Dhuafa yang ingin mempelajari sejarah dan budaya Islam di Indonesia.

“Inilah Pondok Pesantren Suryalaya yang berada di kaki Gunung Cakrabuana. Artinya, kampung yang jauh di sana, sekarang di tengok oleh teman-teman dari Jakarta. Bangga perasaan kami, kami ucapkan selamat datang. Alhamdulilah, sudah hadir di tempat ini, terima kasih,” ujar Ero.

Pesantren Mualaf Indonesia Dompet Dhuafa melalui Program Dakwah Nasional, Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa), menggelar kegiatan bertajuk “Rihlah Mualaf dan Gerakan Cinta Sejarah Islam (GCSI)” di Pondok Pesantren Suryalaya, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat hingga Sabtu (29-30/9/2023). (Foto: Dompet Dhuafa)

“Pada awalnya, Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh merintis Pondok Pesantren Suryalaya. Berkat izin Allah SWT dan dukungan guru beliau, yaitu Syekh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon. Pada 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905 Ponpes Suryalaya didirikan, meskipun awalnya hanya memiliki sebuah masjid kecil di Kampung Godebag, Desa Tanjungkerta. Nama Pondok Pesantren Suryalaya sendiri diambil dari bahasa Sunda, di mana ‘Surya’ berarti Matahari dan ‘Laya’ berarti tempat terbit, sehingga secara harfiah ‘Suryalaya’ berarti tempat Matahari terbit,” tuturnya.

Ponpes Suryalaya mengamalkan ajaran Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang merupakan tarekat yang tersambung kepada Rasulullah SAW dan menjadi amaliyah wajib bagi para pengikut tarekat tersebut, terutama saat Ponpes Suryalaya diasuh oleh Syekh Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin atau yang lebih dikenal dengan Abah Anom.

Selain itu, Dompet Dhuafa juga memberikan donasi sebesar Rp30.000.000 untuk pengembangan pembangunan Museum Ponpes Suryalaya. Menuju malam, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi “Mengenal Diri, Menggapai Ilahi” oleh Dr H Suhrowardi.

“Harapan kami untuk melestarikan cinta kepada sejarah, bagaimana mereka agar tetap kuat dan solid dalam mempertahankan akidah dalam hal ini keyakinan. Dan berharap penuh agar mereka tidak merasa sendirian, dengan rihlah ini mereka merasa enjoy dan di mana pun tempat yang namanya masjid akan menjadi rumah yang utama bagi seluruh muslim, muslimah, dan mualaf,” pungkas Awang.

Oleh: Anndini

LEAVE A REPLY