Ilustrasi hijrah. (Foto: wallpapercave.com)

ZNEWS.ID JAKARTA – Setiap tahun, umat Islam merayakan Tahun Baru Hijriah di Bulan Muharam. Kalender Islam ini baru ditetapkan 17 tahun setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Ada kisah yang jarang diketahui banyak orang di balik pembuatan kalender tersebut.

Seperti dilansir dari laman dompetdhuafa.org, Selasa (25/8/2020), setelah selesai masa pemerintahan Abu Bakar selama dua tahun, Umar bin Khattab menjadi Khalifah umat Islam selanjutnya. Banyak sekali perbaikan yang dilakukan dalam sistem sosial Islam.

Dari penggunaan dana zakat untuk pembangunan hingga upaya yang dilakukan untuk mengatasi wabah kelaparan. Sistem keuangan, administrasi kerap diperbaiki, termasuk sistem penanggalan.

Umat Islam pada zaman dahulu terbiasa menandai tahun melalui peristiwa yang terjadi. Contohnya seperti peristiwa pasukan gajah yang menyerang Kabah, disebut sebagai Tahun Gajah. Kebiasaan menandakan waktu melalui momentum, mengakibatkan penduduk Arab tidak memiliki sistem penanggalan yang jelas.

Pada tahun ke 3-4 kepemimpinan Umar bin Khattab, salah satu petugas pemerintahan di Basrah (Irak), Abu Musa Al-Ash’ari, komplain soal penanggalan yang tidak jelas. Hal ini membuat penanggalan surat dan pencatatan administrasi menjadi tidak konsisten.

Betapa sulitnya mencatat waktu, atau bagaimana tahu kapan seseorang harus melakukan agenda tanpa penanggalan yang jelas. Tentu sulit dan bisa memengaruhi setiap sektor pemerintahan Islam kala itu. Kondisi inilah yang menjadi awal sejarah Tahun Baru Hijriah.

Khalifah Umar mengadakan musyawarah bersama petinggi pemerintahan soal bagaimana mereka menetapkan kalender. Banyak sekali opsi yang dikeluarkan.

LEAVE A REPLY