
Berdasarkan data lima tahun terakhir (2017-2021), lebih dari 3.000 kejadian kebakaran gedung dan permukiman. Ini merupakan ancaman besar di Kota Jakarta.
“Teman-teman DMC Dompet Dhuafa sudah punya sub-subnya yang memang ini sejalan dengan fase-fase penanggulangan bencana,” terang Michael Sitanggang.
Masyarakat mempunyai kesempatan untuk melakukan upaya-upaya mitigasi bencana berbasis komunitas. Karena, banyak riset yang dapat ditemukan melalui komunitas-komunitas yang menarik perhatian, khususnya untuk anak muda.
“Kalau teman-teman DMC Dompet Dhuafa melakukan pengembangan di wilayah tertentu, kenali dulu pengetahuan masyarakat. Jangan sampai kita buka koper, buka tenda, padahal mereka tidak kosong pengetahuannya,” ucap Trinirmalaningrum.
Senada dengan Trinirmalaningrum, Haryo Mojopahit juga menuturkan bahwa komunitas merupakan garda terdepan dalam penanggulangan bencana. Komunitas, kata dia, selain penerima manfaat juga aktor aktif dalam penanggulangan bencana.
“Metode yang digunakan DMC Dompet Dhuafa adalah pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Salah satunya adalah bagaimana kita mengundang stakeholder ke komunitas seperti yang kita lakukan hari ini dan membawa komunitas ke stakeholder,” kata Haryo.
“Dari luar dibawa ke komunitas, begitupun sebaliknya. Kita berharap teman-teman komunitas semakin kuat, aktif bertemu banyak orang,” imbuhnya.
Peningkatan kapasitas dan kesadaraan akan kesiapsiagaan bencana merupakan salah satu kunci dalam mengurangi risiko terdampak bencana. Dengan mengenali ancamannya, niscaya akan memberikan pengaruh yang besar dalam penanggulangan bencana.
“Kenali ancamannya, kurangi risikonya,” tutup Michael. (DMC/AMR)




























