Ilustrasi. (smartekselensia.net)

Oleh: Mulyadi Saputra

ZNEWS.IS JAKARTA – Pintu diketuk dari luar. Seorang remaja masuk ke kelas yang tengah saya ajar dengan langkah ragu-ragu.

“Maaf, Taz, tadi saya asyik baca koran di perpustakaan. Maaf saya salah, Taz.”

“Huuuhh… keluar, keluar, keluar!!!”  Teman-temannya menyorakinya.

Tidak ada pilihan bagi anak itu, ia harus meninggalkan ruangan kelas. Saya yang ada di depan mereka dalam posisi bimbang. Batin saya bergejolak.

Di satu sisi, saya merasa kasihan anak itu jadi tidak bisa mengikuti pelajaran. Tetapi, di sisi lain, saya harus menegakkan disiplin dan konsekuen dengan kontrak belajar yang pernah dibuat bersama di awal tahun pelajaran. Saya rasa, ia selaku pembelajar sejati bisa menerima konsekuensi itu.

Sesuai aturan, saya tidak mengizinkannya untuk mengikuti pelajaran di kelas karena terlambat lebih dari 20 menit. Pengujung Desember 2011 almanak waktu itu, ketika pelajaran Ekonomi untuk persiapan UN, saya membuat siswa terusir itu nyaris menangis.

Hampir seantero Bumi Pengembangan Insani mengenal remaja pembelajar sejati tersebut. Ia sangat familiar, entah dengan adik kelas, tim pantry, karyawan jejaring lain, tim sekuriti, ataupun dengan direktur lembaga sekalipun. Wajahnya wara-wiri setiap hari menghiasi suasana belajar di kawah candradimuka, SMART Ekselensia Indonesia.

LEAVE A REPLY