Ilustrasi cacar monyet. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Oleh: dr Dito Anurogo MSc (Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, sedang menempuh S3 di International PhD Program for Cell Therapy and Regeneration Medicine, College of Medicine, Taipei Medical University, Taiwan, penulis dan trainer professional bersertifikasi BNSP, reviewer di berbagai jurnal nasional dan Internasional)

ZNEWS.ID JAKARTA – Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan penyakit cacar monyet sebagai darurat global (public health emergency international) sejak 23 Juli 2022, meskipun tingkat kematian (fatality rate) penyakit ini hanya satu dari 10 kasus.

​​​​​Penting diketahui bahwa deklarasi kegawatdaruratan global bukan berarti deklarasi pandemi. Meskipun demikian, pernyataan ini berperan penting untuk memotivasi respons cepat dan terkoordinasi lintas-batas terhadap ancaman penyakit cacar monyet yang berpotensi meningkat.

Pemerintah bersama Kementerian Kesehatan telah meningkatkan upaya mitigasi dan langkah antisipasi di berbagai wilayah. Caranya dengan mengaktifkan sistem surveilans epidemiologi, memperketat pengawasan, memperluas sosialisasi, penetapan laboratorium untuk uji sampel, penyediaan vaksin dan 1.000 obat cacar monyet, penyiapan 1.500 reagen untuk tes yang akan dikirim ke semua Balai Besar Laboratorium Kesehatan di semua wilayah.

Kementerian Kesehatan secara khusus telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: HK.02.02/C/2752/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penyakit Monkeypox di Negara Non-endemis sebagai upaya pengendalian dan pencegahan infeksi penyakit cacar monyet.

Transmisi

Penyakit cacar monyet ditularkan dari hewan ke manusia. Terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh (termasuk darah), lesi kulit atau mukosa (selaput lendir) dari hewan yang terinfeksi. Di negara-negara Afrika, virus cacar monyet dijumpai telah menginfeksi berbagai fauna, seperti tikus berkantung Gambia, dormice (hewan pengerat mirip tikus), serta berbagai spesies monyet dan tupai.

Hewan pengerat berpotensi besar menjadi reservoir alami cacar monyet. Faktor risiko terkena cacar monyet adalah memakan daging setengah matang, mengonsumsi produk hewan yang terinfeksi, terutama di sekitar kawasan hutan.

Penyakit cacar monyet juga dapat menular dari manusia ke manusia. Caranya, kontak fisik dengan seseorang yang terinfeksi, terpapar atau kontak langsung dengan sekret pernapasan, menyentuh luka (lesi) kulit orang dengan terinfeksi, atau menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi.

Penularan melalui droplet (partikel kecil saat bersin atau batuk) dimungkinkan terjadi bila kontak dalam waktu lama. Inilah mengapa tim medis atau anggota keluarga berisiko besar tertular infeksi penyakit cacar monyet.

Rantai transmisi penyakit cacar monyet juga terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin, atau selama kontak dekat selama dan setelah proses persalinan. Jalur penularan seksual masih diteliti lebih lanjut.

LEAVE A REPLY