Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Oleh: Fatchuri Rosidin (Direktur Inspirasi Melintas Zaman)

ZNEWS.ID JAKARTA – Kita ini penduduk surga. Nenek moyang kita, Adam dan Hawa, adalah penduduk surga. Mereka diciptakan di surga. Karena telah melanggar larangan Allah, mereka diusir dari surga dan tinggal di bumi, beranak pinak sampai ke kita sekarang.

Jadi, bumi ini tempat sementara kita. Bumi hanya halte. Terminal kita adalah surga. Kita sedang membuktikan diri kepada Allah bahwa kita layak pulang kembali ke rumah kita di surga. Kita buktikan itu dengan menaati perintah-Nya, berbuat baik dan menebar kebaikan di bumi.

Itulah sebabnya saat kita berdialog dengan hati nurani tentang apa yang sebenarnya kita cari, jawabannya selalu bermuara pada tindakan dan sikap mulia yang merupakan prasyarat untuk bisa masuk kembali ke surga. Apa pun agama kita, hati nurani selalu begitu jawabannya: taati perintah-Nya dan tebarkan kebaikan di muka bumi.

Tapi, Tuhan ingin menguji seberapa sungguh-sungguh kita menginginkan dan berupaya pulang ke surga. Maka diciptakan-Nya hawa nafsu yang selalu mengajak ke arah yang berlawanan dengan kehendak hati nurani.

Hawa nafsu selalu berorientasi pemuasan keinginan jangka pendek dan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Ia selalu menarik kita ke dunia, sementara hati nurani mengajak kita ke surga.

Dari pengalaman memandu pembuatan rencana masa depan di lebih dari 100 kelas pelatihan, saya selalu mengajak peserta untuk mengidentifikasi keinginan terdalam mereka; keinginan yang benar-benar berasal dari hati nurani masing-masing. Ini tahapan sangat penting.

Membuat rencana masa depan tanpa mendahuluinya dengan menemukan suara hati nurani akan membuat kita terjebak dalam pengejaran halte. Kita bekerja keras untuk mencapai halte demi halte tanpa sempat berpikir di mana terminal perjalanan hidup kita.

LEAVE A REPLY