
ZNEWS.ID JAKARTA – Jemaah haji akan menjalani prosesi mabit di Muzdalifah dan Mina mulai malam 10 Zulhijah hingga 13 Zulhijah. Lantas, bagaimana alur pergerakan jemaah saat menjalani dua rangkaian wajib haji ini?
Musytasyar Dini PPIH Arab Saudi, KH. M. Ulinnuha, memberikan penjelasan terkait istilah-istilah penting seperti Muzdalifah, Murur, Mina, dan Tanazul.
Mabit di Muzdalifah
Mabit atau bermalam di Muzdalifah merupakan salah satu kewajiban dalam ibadah haji. Kegiatan ini dilakukan setelah jemaah menyelesaikan wukuf di Arafah.
“Pada Kamis, 5 Juni 2025 atau 9 Zulhijjah, jemaah haji akan wukuf di Arafah. Kemudian malam 10 Zulhijjah, seluruh jemaah akan bergerak ke Muzdalifah untuk Mabit (menginap),” kelas KH Ulinnuha dilansir dari Kemenag.
Hal ini sesuai dengan firman Allah:
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya: “Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam.” (QS Al-Baqarah: 198)
Masy’arilharam yang dimaksud adalah Muzdalifah. Secara bahasa, Muzdalifah berasal dari kata al-Izdilaf yang berarti berkumpul.
Nama ini juga merujuk pada peristiwa dalam sejarah, yakni tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah berpisah selama ratusan tahun.
“Karena Nabi Adam yang Siti Hawa berkumpul di sini, maka tempatnya disebut sebagai Muzdalifah,” katanya.
Peristiwa itu kemudian menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji yang juga dilakukan oleh Rasulullah SAW saat haji wada’.
“Ini berdasarkan Firman Allah SWT dan apa yang ditunaikan oleh Rasulullah SAW ketika menunaikan haji wada’,” katanya.
Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Muzdalifah, beliau memerintahkan Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan, lalu melaksanakan salat Magrib dan Isya secara jamak.
Sejak itu, mayoritas ulama menyepakati bahwa mabit di Muzdalifah termasuk wajib haji. Siapa yang meninggalkannya wajib membayar dam.
Selama berada di Muzdalifah, jemaah dianjurkan memperbanyak dzikir dan mempersiapkan batu kerikil untuk melontar jamrah.
Meskipun secara teknis kerikil telah disediakan oleh penyelenggara (syarikah), mengambil sendiri kerikil di Muzdalifah dianggap mengikuti sunah Rasul.
Jumlah kerikil yang disiapkan adalah 49 buah untuk jemaah yang mengambil nafar awal, dan 70 buah untuk jemaah nafar tsani. Bila khawatir kurang, jemaah disarankan mengambil lebih banyak.
Waktu mabit di Muzdalifah adalah mulai malam 10 Zulhijah hingga menjelang subuh. Namun, pelaksanaannya akan diatur oleh pemerintah Arab Saudi dan disesuaikan dengan jadwal syarikah selaku penanggung jawab pergerakan jemaah.
Mabit di Mina
Setelah selesai mabit di Muzdalifah, jemaah akan menuju Mina. KH. Ulinnuha menjelaskan bahwa secara bahasa, Mina juga disebut muna yang berarti harapan.
“Di Mina, kita bermunajat kelas Allah SWT sebagaimana yang dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu,” kata Ulinnuha.
Setiba di Mina pada 10 Zulhijah, jemaah akan melakukan lempar jumrah aqabah sebanyak tujuh kali. Setelahnya, mereka bisa melakukan tahallul awal, yaitu mencukur rambut.
Setelah tahallul ini, jemaah diperbolehkan memakai pakaian biasa dan terbebas dari larangan ihram, kecuali hubungan suami istri.
“Bagi pasutri yang statusnya masih tahallul awal, maka belum boleh berjimak hingga melakukan tahallul tsani setelah tawaf Ifadah,” jelasnya.
Usai melakukan tawaf ifadah, jemaah kembali ke Mina untuk mabit pada malam 11 dan 12 Zulhijah (bagi yang mengambil nafar awal), dan malam 13 Zulhijah (bagi yang mengambil nafar tsani).
Pada 11 dan 12 Zulhijah, jemaah yang mengambil nafar awal akan melakukan lontar jumrah ula, wustha, dan aqabah, masing-masing tujuh kali, dengan menggunakan kerikil yang telah disiapkan dari Muzdalifah. Sedangkan jemaah nafar tsani akan melanjutkan lontar jumrah hingga 13 Zulhijah.
“Setelah semua mabit dan jamarat selesai, maka jemaah akan kembali ke hotel masing-masing di Makkah,” tuturnya.





























