
Karena itu di tengah keterbatasan anggaran negara, langkah Pemerintah untuk meningkatkan rasio penduduk berpendidikan tinggi (hingga S-3), melalui optimalisasi anggaran pendidikan patut diapresiasi.
Indonesia bisa belajar dari Singapura dan Korea Selatan dalam meniti jalan menjadi negara maju berbasis industri, salah satunya dengan cara menyelaraskan sistem pendidikan dengan pembangunan industri.
Kemudian bagaimana pelaku industri tidak hanya sekadar menjadi pengguna, namun mereka juga terlibat aktif memberi masukan mengenai kurikulum pendidikan.
Sebagai negara industri, baik di Singapura, Korsel, maupun negara maju lain, sektor industri dan manufaktur mudah mendapatkan talenta yang dibutuhkan dari generasi baru hasil, lulusan lembaga dalam negeri.
Bagi Indonesia, salah satu pelajaran yang bisa dipetik adalah tentang pentingnya pendekatan sistematik dalam mempersiapkan SDM melalui pendidikan berkualitas tinggi, dan mudah diakses rakyat, termasuk anak dari keluarga tidak mampu.
Jalan itu harus ditempuh karena pada akhirnya pembangunan industri harus didukung oleh talenta dari generasi baru yang memiliki kompetensi dan keterampilan khusus.
Tahapan ini tidak bisa dicapai seketika, tetapi harus melalui tahapan pendidikan dan latihan yang berlangsung reguler.
Ketika Indonesia sedang memacu sektor industri, salah satunya menjalankan kebijakan hilirisasi SDA (sumber daya alam) dan industri ramah lingkungan, persoalan yang banyak dihadapi perusahaan adalah ketersediaan talenta yang siap pakai.
Kenyataan yang terlihat bahwa jumlah tenaga terampil yang tersedia untuk menjalankan industri sangat terbatas.
Semua bisa melihat fakta di lapangan, ketika pemerintah ingin membangun industri nikel, yang akan menjadi pilar industri kendaraan listrik (electric vehicle), maka banyak tenaga kerja didatangkan dari negara investor.
Selain karena padat modal dan teknologi, memang tak cukup tersedia tenaga terampil yang bisa disediakan di dalam negeri, itu juga yang menjadi sebab tersendatnya proses transfer teknologi.
Kemajuan teknologi sektor industri menuntut talenta yang dihasilkan dunia pendidikan, itu sebabnya pihak industri dan lembaga pendidikan perlu berkolaborasi untuk menyiapkan talenta yang memiliki kompetensi relevan, utamanya dalam lapangan kerja hijau.
Di Indonesia masih terjadi kesenjangan, antara lulusan perguruan tinggi, utamanya pendidikan vokasi/politeknik, dengan kebutuhan korporasi dan industri, yang berdampak tidak terserapnya lulusan perguruan tinggi di dunia kerja.
Sumber: Antara




























