TERNYATA penggemar kucing di Indonesia ini sangat banyak. Terbukti chanel-chanel tentang kucing, baik sekedar tentang kelucuannya maupun soal perawatan kucing terlantar, selalu banyak penontonnya. Cuma awas, setelah nonton chanel-chanel demikian Anda akan ketularan juga. Bukan ikut-ikutan jadi Youtuber konten kucing, tapi ketularan menjadi penyayang kucing, sehingga mudah menjadi iba ketika memukan kucing terlantar di jalan dan mencoba untuk merawatnya pula.
Ada banyak chanel Youtube tentang kucing. Misalnya Lily Ivo Cat Family, Melozi Chanel dan Kucing Yatim; mereka ini spesialisasi tentang ngopeni kucing terlantar di jalan. Di tangan mereka kucing-kucing terlantar itu dimanjakan betul, dikasih tempat yang bersih, makanan bergizi. Dan mereka juga tanpa jijik membersihkan sendiri kucing kucing tersebut. Begitu bahagianya mereka, ketika kucing-kucing itu kembali sehat, lincah dan gemuk.
Adapun chanel Youtube yang mengeksploitir tentang kelucuan kucing berbagai ras, bisa disebut misalnya: Angelina Bian, Jaya Edutainment, My Funny Cats, dan lain-lainnya. Subcribenya banyak sekali. Padahal itu tak ada bedanya dengan netizen yang mengagumi si Cipung anak Sultan Andara Raffi Ahmad, yang segala tingkah lakunya selalu dibikin konten oleh sang ayah. Mungkin pengagumnya juga menunggu, kapan Cipung beol dibuat konten.
Jangan kaget, bikin konten tentang kucing ternyata juga menjadi sumber keuangan yang menjanjikan, tanpa harus pemilik chanel orang terkenal sebagaimana artis-artis. Kotaro Kreatif misalnya, hanya selalu mengekspose kucing-kucing lucu bukan miliknya, dia bisa punya penghasilan Rp 100 juta sebulan dari adsense internet. Bahkan ada yang hanya kopas konten chanel lain lalu dikomentari barang sedikit, bisa mendapat penghasilan antara Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Pantas saja chanel Lily Ivo Cat Family, dan Melozi Chanel bisa memanjakan kucing-kucing temuannya di jalan-jalan.
Mereka ini benar-benar total menyayangi kucing-kucingnya. Ketika menemukan anak kucing di tempat sampah, disapanya dengan istilah “nak”, sehingga dia bilang, “Ayo kita pulang nak.” Lalu kucing terlantar itu dibawa pulang untuk dirawat. Jika kucing itu bisa bertemu dengan induknya, mereka sebut “ibu”. “Tenang ya nak, kamu sudah bertemu ibumu.” Kata pemilik konten kucing. Tak begitu jelas, apakah mereka tak bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, atau sekedar menunjukkan kasih sayangnya pada kucing.
Kucing memang satwa lucu, terutama ketika masih kecil, apa lagi kucing-kucing ras. Karenanya banyak orang sayang kucing, terutama bagi kaum wanita. Padahal kata para ahli medis, terlalu dekat dengan kucing-kucing piaraannya bisa mengancam tak punya keturunan. Tetapi faktannya penggemar kucing makin banyak, bagi yang berduit harga kucing ras sampai jutaan bukan masalah. Padahal kucing ras itu daya tahannya tak sekuat kucing kampung yang tidak kampungan.
Nabi Muhammad SAW pun ternyata juga penggemar kucing. Dalam sebuah riwayat disebutkan, kucing Nabi itu diberi nama Muezza. Begitu sayangnya Nabi pada kucingnya, suatu hari Nabi hendak berangkat salat dan mempersiapkan diri serta berpakaian. Namun, Nabi Muhammad menemukan Muezza tidur beralaskan jubahnya. Alih-alih membangunkan tidur Muezza, Nabi justru memilih memotong sebagian jubahnya, meninggalkan Muezza tetap tidur. Sepulangnya dari salat, Nabi mendapati muezza sudah terbangun dan bersujud padanya, Nabi pun membalas dengan mengelus tubuhnya sebanyak tiga kali.
Kata orang, orang yang diakrabi kucing pertanda akan murah rejeki. Jika ada kucing yang baru dikenalnya langsung menempel kaki kita, itu pertanda akan memurahkan rezeki bagi orang yang diakrabi kucing tersebut. Yang jelas, biasanya orang yang tidak risih didekati kucing adalah orang yang memang suka kucing. Bagi yang tidak suka, jangan coba. Bisa kucing itu mengeong keras karena kena tendang.
Dari kecil penulis memang suka kucing. Maka ketika ayah dari Jakarta bawa oleh-oleh kucing kampung, senangnya bukan main. Ini kisah tahun 1960-an, ketika kucing masih bermusuhan dengan tikus. Kucing sekarang mah, lihat tikus diam saja tak mau menubruk dan memakannya. Mungkin sudah ada perjanjian tak tertulis antara mereka, sesama hewan jangan mengganggu, kita cari rejeki masing-masing saja. Tapi kemungkinan paling masuk akal adalah, kucing masa kini tak mau makan tikus karena sudah banyak makanan alternatif dari sang majikan. Andaikan kucing bisa ngomong, dia akan mengatakan, “Ngapain capek-capek ngejar tikus, lha wong wiskas dan ikan cuwik selalu disiapkan boss.”
Karena ada keyakinan kucing bisa mendatangkan rejeki, penulis punya famili pelihara kucing terlantar sampai 23 ekor. Katanya sehari bisa menghabiskan dana sampai Rp 30.000,- Padahal dia sendiri kehidupan sehari-harinya boleh dikata masih nyenen-kemis. Tapi untuk vaksin kucing dan sterilisasinya, meski harus bayar Rp 300.000,- sama sekali tidak sayang uang. Padahal rumah tempat tinggalnya masih juga ngontrak.
Terus terang, penulis belakangan jadi tak tegaan pada kuciing terlantar juga gara-gara suka menonton tayangan Youtube kucing. Jika menemukan anak kucing kedinginan di got, langsung saya bawa pulang dan dirawat semampu saya. Sampai-sampai istriku pernah membatin ketika melihat kucing terlantar dijalan, “Kalau ketemu suamiku pasti dibawa pulang.”
Dan ternyata benar, kucing yang tadi diacuhkan istriku, kini memang sudah dalam perawatanku. Istri minta, kalau sudah gede dan bisa cari makan sendiri, buang saja ketimbang bikin kotor rumah. Tapi penulis hanya menjawab, “Kalau dia pergi dengan sendirinya, silakan. Tapi untuk membuangnya aku tak tega.” (Cantrik Metaram).





























