
Hal yang ia sayangkan adalah ketika ada orang-orang yang masih saja bandel melintasi rel saat kereta sudah mendekat. Saat itu, ia merasa sangat jengkel.
Kadang, ia harus teriak bahkan lari untuk menghampiri orang-orang seperti ini. Meski saat itu beberapa orang menganggapnya galak, namun banyak orang justru mengapresiasi karena ketegasannya dalam melakukan tugas.
“Suka kesal sama orang yang bendel. Sudah diperingati kereta mau lewat tapi masih saja nerobos. Tapi selalu tegas, kadang saya harus teriak-teriak. Alhamdulillah, selama saya jaga tidak ada kejadian yang serius. Memang pernah ada yang kesenggol, tapi tidak jauh. Kaget, kemudian jatuh,” ceritanya.
Mulyadi menjelaskan, ketika ada orang yang bandel dan posisi orang itu lebih dari 100 meter, ia akan biarkan.
“Karena sudah tidak mungkin dijangkau,” katanya. “Paling saya teriakin saja. Kurang dari 100 meter, saya masih bisa lari, kemudian saya tarik,” sambungnya.
“Pernah suatu malam. Saat itu saya shift malam. Sudah saya teriakin untuk minggir tapi masih saja nengah. Langsung saya tarik tangannya kemudian saya injak kakinya supaya tidak bisa lanjut jalan. Di samping saya kesal sama orang itu, tapi saya juga senang bisa menyeelamatkan nyawanya,” lanjut Mulaydi.
Di perlintasan ini, pos penjagaan dilengkapi alat sistem perlintasan kereta. Walau dibantu alat, Mulyadi mengaku tugas penjaga tidak berkurang karena alat masih harus dikendalikan manual.
Meski begitu, ia sedikit terpikir rasa khawatir suatu saat semua sistem menggunakan sistem digital dan automatis. Pasalnya, jika itu terjadi, ada kemungkinan terjadi pengurangan tenaga manusia.
“Semuanya masih serba manual. Kecuali sistem peringatannya saja yang otomatis nyala, seperti alarm. Kalau buka tutup palang, harus dilakukan sendiri,” ucapnya sambil menunjuk panel kontrol. Kepada Tim Dompet Dhuafa, ia menerangkan arti kode yang tertera pada lampu alarm.



























