Jakarta, ZNews.id – Pengunduran diri Kevin Michael Rudd dari jabatannya sebagai Duta Besar Australia untuk Amerika Serikat menarik perhatian internasional. Langkah tersebut disebut berkaitan dengan ketegangan diplomatik yang mengemuka antara Rudd dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang kembali memimpin Gedung Putih.
Mundurnya Rudd menandai akhir dari satu bab penting dalam karier panjangnya di dunia politik dan diplomasi. Sosok yang pernah dua kali menjabat Perdana Menteri Australia ini dikenal luas sebagai politisi berpengalaman, diplomat ulung, sekaligus figur dengan pemahaman mendalam tentang geopolitik Asia-Pasifik.
Mundur di Tengah Ketegangan Diplomatik
Kevin Rudd menyampaikan pengunduran dirinya di Washington DC. Meski tidak secara rinci mengungkapkan seluruh alasan personal dan diplomatik di balik keputusannya, berbagai laporan menyebut hubungan yang kurang harmonis dengan Presiden Donald Trump menjadi faktor utama.
Rudd dikabarkan resmi mengakhiri masa jabatannya pada 31 Maret untuk menjadi Presiden Asia Society di New York.
Rudd dikenal sebagai tokoh yang kerap menyampaikan pandangan kritis terhadap gaya kepemimpinan Trump, termasuk dalam isu multilateralisme, perubahan iklim, dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Ketegangan ini dinilai berpotensi mengganggu efektivitas diplomasi Australia–Amerika Serikat. Pada akhirnya, pengunduran diri dipandang sebagai langkah untuk meredam eskalasi hubungan kedua negara.
Dua Kali Menjabat Perdana Menteri Australia
Kevin Michael Rudd bukan nama baru dalam politik Australia. Ia pertama kali menjabat sebagai Perdana Menteri Australia pada 3 Desember 2007 hingga 24 Juni 2010 sebagai pemimpin Partai Buruh Australia (Australian Labor Party/ALP).
Ia kembali ke kursi perdana menteri pada periode singkat, 27 Juni 2013 hingga 18 September 2013, setelah dinamika internal partai yang intens. Di luar jabatan eksekutif tersebut, Rudd merupakan anggota House of Representatives sejak 1998, mewakili daerah pemilihan Griffith di Queensland.
Kepemimpinannya dikenal dengan fokus pada kebijakan luar negeri aktif, hubungan strategis dengan Asia, serta peran Australia dalam forum global.
Pernah Menjabat Menteri Luar Negeri
Setelah tidak lagi menjadi perdana menteri, Rudd tetap memegang peran penting di pemerintahan. Pada era Perdana Menteri Julia Gillard, ia ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri Australia mulai September 2010.
Namun, pada Februari 2012, Rudd secara mengejutkan mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Saat itu, ia menyatakan tidak lagi mendapat dukungan politik yang memadai dari pimpinan pemerintahan. Pengunduran diri ini memicu spekulasi luas Rudd tengah mempersiapkan langkah politik untuk kembali memimpin Partai Buruh—yang kemudian terbukti pada 2013.
Diplomat dan Politisi dengan Latar Belakang Asia
Sebelum dikenal sebagai politisi papan atas, Kevin Rudd berkarier sebagai diplomat. Ia pernah bertugas di Stockholm dan Beijing, pengalaman yang membentuk perspektif internasionalnya sejak dini.
Rudd merupakan alumnus Australian National University (ANU) di Canberra. Ia lulus dengan predikat kehormatan kelas satu di bidang Kajian Asia. Fokus studinya mencakup Bahasa Tionghoa dan Sejarah China—bidang yang kemudian menjadi ciri khas keahliannya.
Kemampuannya berbahasa Mandarin membuat Rudd menonjol di antara pemimpin Barat. Ia bahkan memiliki nama Mandarin resmi, Lù Kèwén (陆克文), yang sering digunakan dalam interaksi diplomatik dengan China.
Figur Global di Panggung Internasional
Dalam karier panjangnya, Kevin Rudd dikenal sebagai figur yang aktif dalam isu-isu global. Mulai dari perubahan iklim, tata kelola global, hingga keamanan kawasan Asia-Pasifik. Ia juga kerap terlibat dalam forum internasional dan diskusi strategis lintas negara.





























