
Selain faktor keamanan dan kesehatan, hal selanjutnya adalah integrasi antarmoda di fasilitas transportasi publik. Harya memaparkan, di Jabodetabek, sebanyak 45 persen pengguna transportasi publik telah memfungsikan ojek online sebagai solusi first mile-last mile, atau untuk menyambung perjalanan dari tempat asal menuju tempat transit transportasi massal.
“Kunci keberhasilan integrasi antarmoda transportasi ada tiga, yaitu responsif, terencana, dan terlembagakan, serta tidak ada hambatan regulasi dan birokrasi,” kata Harya.
Responsif adalah ketika layanannya berorientasi konsumen, sehingga diharapkan bisa meminimalisasi waktu tunggu, seamless, dan memiliki sistem pembayaran tunggal (single payment tool).
Terencana dan terlembagakan adalah dimana aplikasi bisa berperan sebagai integrator dan sebaliknya. Hal ini, menurut Harya, bisa berdampak baik bagi pengguna karena praktis dan nyaman.
Kunci ketiga yaitu tidak adanya hambatan regulasi dan birokrasi, lebih ke efisiensi yang akan lebih mudah terwujud.
Harya mengatakan, saat pandemi usai pun, masyarakat berharap bisa menggunakan transportasi publik lagi. Bukan hanya cepat dan nyaman, tapi juga aman dalam sisi kesehatan.
“Ini adalah tantangan kita setelah pandemi usai. Kita akan kembali beraktivitas dengan normal baru yang lebih waspada. Kita harus terapkan prokes, terutama di fasilitas transportasi publik, dan optimalisasi transportasi publik karena pola masyarakat akan terjadi perubahan ke depannya,” pungkasnya.
Editor: Agus Wahyudi
Sumber: Antara





























