Gunung Himalaya terlihat dari jarak 200km untuk pertama kalinya dalam 30 tahun pada 4 April 2020, bersamaan dengan lockdown di India yang menurunkan tingkat polusi udara. (Foto: ANTARA/Twitter/@khawajaks)

Oleh: Thayyibah Nazlatul Ain

“Manusia adalah makhluk yang paling gila. Mereka memuja Tuhan yang tidak terlihat dan merusak alam yang terlihat tanpa menyadari bahwa alam yang sedang mereka rusak sebenarnya adalah manifestasi Tuhan yang mereka puja.”
(Hubert Reeves, Ahli Astrofisika)

ZNEWS.ID JAKARTA – Dewasa ini, permasalahan lingkungan sudah menjadi perhatian berbagai pihak. Masalah persampahan, krisis iklim, pencemaran air bahkan kematian berbagai spesies sudah terlihat di depan mata. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memprediksi bahwa pada 2030 terjadi peningkatan temperatur hingga 1,5 derajat Celcius.

Angka kenaikan tersebut akan memicu badai angin, panas berkepanjangan, kekeringan bahkan kepunahan massal. Artinya, kita hanya memiliki waktu 8 tahun untuk melakukan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Tidak terkecuali masalah persampahan.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019, timbunan sampah yang dihasilkan sebesar 0,7 kg per orang per hari.

Selain itu, permasalahan keterbatasan air bersih menjadi ancaman karena sebanyak 7.7 miliyar orang di dunia ini memperebutkan ketersediaan air bersih layak yang hanya 0.007 persen di Bumi.

Disadari atau tidak, manusia adalah salah satu kontributor utama permasalahan lingkungan. Memang, tidak bisa dimungkiri bahwa kita membutuhkan sumber daya lingkungan untuk menunjang keberlangsungan hidup.

Namun, ketidakbijaksanaan dan keserakahan manusia menjadikan adanya ketidakseimbangan ekosistem sehingga memunculkan berbagai masalah lingkungan.

Dalam menangani hal tersebut, dunia merespons melalui Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 untuk mengurangi dampak yang dihasilkan dari aktivitas manusia.

LEAVE A REPLY