Ilustrasi nyeri haid. (Foto: unsplash.com/Taryn)

ZNEWS.ID JAKARTA – Dokter dari Divisi Kesehatan Reproduksi Departemen OBGYN FKUI-RSCM, dr Achmad Kemal Harzif SpOG(K), menyarankan kaum hawa tak meremehkan nyeri haid, terutama memberat dalam beberapa waktu karena bisa jadi itu tanda endometriosis.

“Jangan meremehkan nyeri. Buat yang pernah mengalami nyeri haid sering dianggap biasa. Disuruh segera menikah dan mempunyai anak. Padahal belum tentu itu semua menyelesaikan masalah,” ujar dia dalam acara virtual dilansir dari Antara.

Kemal menjelaskan bahwa endometriosis terjadi ketika jaringan yang membentuk lapisan dalam rahim juga tumbuh di luar rahim. Kondisi itu dapat tumbuh pada organ lain di dalam panggul atau perut dan bisa menyebabkan perdarahan, infeksi dan nyeri berupa rasa sakit, kram dan perasaan terbakar.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2021 menyebut, prevalensi endometriosis sebagai penyakit kronik progresif dengan rasa nyeri tinggi yang diderita oleh hampir 10 persen perempuan usia reproduktif di seluruh dunia.

Di Indonesia, prevalensi umum masalah kesehatan ini berkisar antara 3 – 10 persen, terutama pada perempuan dalam usia reproduksi.

Obat penghilang nyeri sebagai salah satu senjata mengatasi nyeri bila konsisten digunakan memang tak banyak memberikan efek negatif.

Tetapi, bila ternyata pasien mengalami endometriosis lalu tidak terdiagnosis maka obat hanya menghilangkan gejala tetapi tidak mengatasi masalah penyakitnya.

LEAVE A REPLY