
Sagu dan Sorgum
Sagu menjadi pilihan karena merupakan pangan lokal utama yang sudah dikenal masyarakat Indonesia. Sagu akrab digunakan masyarakat dari paling barat hingga paling timur Indonesia. Bahkan, di Pulau Jawa, sesungguhnya sagu adalah makanan pokok sebelum beras, sama seperti halnya masyarakat Papua.
Hal tersebut terbukti dari sebutan sego di Suku Jawa atau sega di Suku Sunda untuk menyebut nasi. Kata sego atau sega sebetulnya merujuk pada sagu untuk menyebut nasi.
Produksi sagu per pohon juga tinggi, karena bervariasi dari 300 kg per pohon hingga 1.000 kg per pohon. Pada sagu varietas unggul, potensi hasil sagu dapat mencapai 100 ton per hektare.
Pada konteks ini sagu dapat dipandang sebagai tanaman pangan paling produktif karena mampu menghasilkan 20-40 ton pati kering per hektare per tahun.
Tepung asal sagu juga dapat dicampur dengan tepung gandum dengan porsi 10-20 persen tanpa mengubah rasa secara signifikan, sehingga dapat mengurangi jumlah impor gandum.
Bila industri Indonesia dapat mengganti 20 persen gandum dengan sagu, maka Indonesia dapat menghemat devisa Rp4,8 triliun.
Sementara komoditas kedua, yaitu sorgum juga berpeluang karena produktivitasnya tinggi. Sorgum juga multimanfaat karena semua bagian tanaman dapat digunakan untuk berbagai keperluan.
Bijinya diolah menjadi beras dan tepung, sementara batangnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada sorgum manis batangnya bahkan dapat digunakan sebagai bahan baku gula cair, kecap, hingga bioetanol.
Sorgum layak dikembangkan karena relatif tahan terhadap perubahan iklim. Ia dapat hidup di lahan kering dengan potensi ratun 2-3 kali.





























