
Oleh: Fatchuri Rosidin (Direktur Inspirasi Melintas Zaman)
ZNEWS.ID JAKARTA – Benarkah impian yang kita tulis benar-benar impian terbaik kita? Impian terbaik adalah impian yang berasal dari hati nurani. Itu impian terdalam kita.
Tapi, impian itu terkubur oleh impian-impian jangka pendek dan terlihat lebih menarik. Kita harus mengajak bicara hati nurani untuk menemukan impian itu kembali. Bagaimana caranya?
Di kelas pelatihan Move On: Seni Meraih Sukses dan Hidup Bahagia, saya mengajarkan teknik yang saya sebut Imajinasi Kematian. Duduklah di tempat yang tenang dan ikutilah imajinasi yang saya tulis ini.
Bayangkan Anda sedang berada di tempat kerja dan sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk sejak pagi. Di tengah kesibukan, tiba-tiba telepon genggam Anda berdering.
Anda diminta segera pulang ke rumah karena ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Saat Anda menanyakan siapa yang meninggal, telepon terputus dan Anda tidak bisa menghubunginya lagi.
Anda panik dan segera meluncur pulang dengan terburu-buru sambil di jalan berpikir siapa yang meninggal. Semua nomor telepon keluarga yang Anda hubungi selama perjalanan tak ada yang diangkat. Anda mempercepat laju kendaraan agar bisa segera sampai di rumah.
Rumah Anda telah ramai oleh kerabat dan tetangga saat Anda datang. Anda pun bergegas masuk dan langsung menuju jenazah yang sudah terbujur kaku.
Seluruh tubuhnya ditutup kain. Anda pun mendekat untuk menyingkap kain yang menutupi wajahnya karena ingin segera mengetahui siapa yang meninggal.
Saat kain tersingkap, Anda seperti disambar petir. Jantung berdegup kencang, napas tiba-tiba terasa sesak. Anda masih terpaku tanpa bisa berkata-kata melihat wajah yang Anda lihat. Karena wajah yang Anda lihat adalah wajah Anda sendiri!
Apakah ini mimpi? Bukankah Anda masih hidup? Bagaimana mungkin jenazah yang terbujur kaku di depan Anda adalah Anda sendiri? Anda berpikir keras tapi tak juga mampu memahaminya.
Dalam kebingungan, Anda menepuk bahu orang di samping Anda untuk bertanya. Tapi, Anda tak berhasil menyentuhnya. Anda seperti menyentuh bayangan.
Anda panggil namanya, ia tak mendengar. Anda colek bahu orang lain, tak juga merespons. Anda bertanya, setengah teriak, tak ada yang mendengar. Anda berteriak sekeras-kerasnya, tak ada yang mendengar.





























