Ilustrasi Hortikultura dan Perkebunan Berpotensi Jadi Solusi Perubahan Iklim. (Pixabay.com/Kitbinan/nanik)

ZNEWS.ID JAKARTA – Subsektor hortikultura dan perkebunan Indonesia meliputi komoditi penting yang memiliki peran strategis sebagai tulang punggung perekonomian nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan untuk memenuhi permintaan dunia. Namun, peningkatan produksi hortikultura dan perkebunan dengan cara memperluas area tanam di wilayah hutan dan lahan gambut menarik perhatian dunia karena dianggap merusak keragaman hayati dan menjadi sumber emisi gas rumah kaca (GRK).

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari, mengatakan bahwa sektor pertanian memiliki posisi unik di dalam isu perubahan iklim global ini yaitu sebagai penyebab, sebagai korban, sekaligus sebagai solusi.

“Indonesia sebagai negara kepulauan dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia sangat rentan terhadap perubahan iklim. Dengan memahami ketiga posisi sektor pertanian tersebut secara utuh, kita dapat mengidentifikasi senjang riset dan menentukan arah penelitian dengan lebih baik,” terangnya dikutip dari laman resmi BRIN.

Puji menambahkan, riset di sektor pertanian terutama diarahkan untuk peningkatan produktivitas pertanian dengan memberikan perhatian serius terhadap aspek lingkungan. Sehingga, akan meningkatkan upaya adaptasi, mitigasi (sebagai keuntungan dari upaya adaptasi), dan ketangguhan iklim.

Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Dwinita Wikan Utami, mengatakan sektor hortikultura dan perkebunan memiliki potensi besar sebagai solusi perubahan iklim. Budidaya hortikultura secara presisi akan menurunkan intensitas emisi sekaligus meningkatkan produksi dan kualitas.

“Sementara pengembangan tanaman perkebunan di lahan kritis dan terdegradasi akan meningkatkan serapan karbon daratan sekaligus untuk memenuhi permintaan dunia terhadap hasil komoditas perkebunan yang terus meningkat,” kata Dwinita.

Sementara, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto, mengatakan bahwa jejak karbon yang dihasilkan oleh populasi, sistem, maupun aktivitas tertentu, penting untuk diidentifikasi sebagai dasar penyusunan strategi pengurangan emisi.

“Perkebunan kelapa sawit memiliki utang karbon dari penggunaan lahan sebelumnya yang berupa hutan. Pengembangan perkebunan kelapa sawit selanjutnya diarahkan ke wilayah yang memiliki cadangan karbon lebih rendah seperti padang rumput dan semak,” katanya.

LEAVE A REPLY