Ilustrasi

ZNEWS.ID, JAKARTA – Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dan mitranya dari Australia, Scott Morrison, kemungkinan akan menyetujui pakta pertahanan bersejarah yang akan menyelaraskan dua sekutu utama Amerika Serikat di Asia itu sebagai lawan dari pengaruh China yang tumbuh di kawasan.

Morrison tiba di Jepang pada Selasa (17/11/2020) di mana para ahli keamanan mengharapkan dia untuk menyelesaikan Perjanjian Akses Timbal Balik (RAA) dengan Suga guna menetapkan kerangka hukum untuk saling kunjung pasukan, serta untuk latihan dan operasi militer bersama.

“Akan ada sesuatu untuk diumumkan dari pertemuan itu,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang pada jumpa pers, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Perjanjian yang membutuhkan waktu enam tahun untuk dinegosiasikan dan perlu diratifikasi oleh anggota parlemen, akan menjadi perjanjian pertama bagi Jepang sejak menandatangani perjanjian status pasukan pada 1960 yang memungkinkan AS untuk menempatkan kapal perang, jet tempur, dan ribuan pasukan di dalam dan sekitar Jepang sebagai bagian dari aliansi militer yang digambarkan oleh Washington sebagai landasan keamanan regional.

Dalam panggilan telepon dengan Suga pekan lalu, presiden terpilih AS Joe Biden mengatakan pemerintahannya berkomitmen untuk mempertahankan kemitraan yang erat itu.

Tokyo dan Canberra berupaya memperkuat hubungan karena mereka khawatir tentang aktivitas China di wilayah tersebut, termasuk militerisasi di Laut China Selatan, manuver di sekitar pulau-pulau yang disengketakan di Laut China Timur, dan pengaruh Beijing yang semakin besar atas negara-negara pulau Pasifik di timur jauh.

“Sangat membantu bagi negara lain untuk mengambil peran lebih aktif dalam kegiatan dan operasi militer di kawasan itu, paling tidak karena Amerika terlalu kewalahan,” kata Grant Newsham, seorang peneliti dari Japan Forum for Strategic Studies.

BACA JUGA  Kasus COVID-19 Meningkat, Jepang akan Umumkan Kondisi Darurat

LEAVE A REPLY