
ZNEWS.ID JAKARTA — “Nafasnya melemah,” tuturnya.
Selang beberapa menit, denyut nadi Ester berhenti. Wajahnya terlihat kaku. Di Dalam pelukan ibunya, ia kalah dengan perang melawan gizi buruk.
Begitulah sepenggal paragraf yang yang tertulis di Buku “ASMAT, Mutiara Timur yang Tersisih” karya Dhihram Tenrisau.
Paragraph itu menceritakan kisah seorang balita berumur dua tahun bernama Ester Sinabiparas. Ia merupakan salah satuh balita yang meninggal di tengah wabah gizi buruk yang menimpa wilayah Asmat.
Beberapa sisi lain dari Kejadian Luar Biasa (KLB) di wilayah Asmat ikut disisipkan. Budaya unik hingga makanan khas daerah ikut juga disinggung di buku tersebut.
Perjalanan empat bulan menjadi relawan medis Dompet Dhuafa di Distrik Agats, Asmat Papua, membuat Dhihram Tenrisau gundah. Dokter gigi itupun mencatat pengalamanya dan menuangkannya ke dalam sebuah buku.
“Saya ditugaskan ke Asmat mendampingi relawan dokter untuk penyelesaian terkait gizi buruk, dari September sampai Desember sebelum natal,” kata Dhihram dalam acara Peluncuran Buku ASMAT , Mutiara Timur yang Tersisih dan Diskusi Publik bertema ‘Duka Asmat Belum Berlalu’ pada Jumat (1/11/2019) di Jakarta.
Semenjak status KLB akibat gizi buruk dan campak di Asmat dicabut sejak 5 Februari 2018, tercatat korban meninggal mencapai 72 anak-anak yakni 66 karena campak, dan enam karena gizi buruk.
Selama KLB, berbagai penanganan kesehatan dilakukan pemerintah Indonesia. Antara lain memberikan vaksinasi terhadap lebih dari 10 ribu anak Asmat yang ada di 224 kampung di 23 distrik, dan perawatan para korban di RSUD Agats.
“Di sana susah listrik malamnya, sinyal jelek. Jadi saya manfaatkan untuk membaca dan menulis,” ucapnya.
Menurut Dhihram, sebagai tim dari Dompet Dhuafa, tidak mudah memberikan pemahaman terkait kesehatan di sana, sehingga dibutuhkan kesabaran yang lebih oleh para petugas di sana. Untuk itu mereka juga mengajak masyarakat Papua yang ikut bergabung dalam memberikan edukasi.
“Harapannya buku ini menjadi ‘lesson learn’ terhadap gizi buruk dan pendampingan berbasis masyarakat. Segala hal baik-buruk kami ulas, khususnya untuk kami Dompet Dhuafa,” kata Dhihram.
“Dari September hingga Desember 2018 saat itu, banyak pengalaman di sana yang saya tuangkan dalam buku ini,” terangnya.
Dompet Dhuafa sendiri menjadi NGO Filantrofi yang gigih memperjuangkan penaganan gizi di Asmat. Sejak Januari 2018, Dompet Dhuafa sudah menerjunkan berbagai tim respon, terutama tim medis.
Bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan pemerintah setempat, berbagai progam bergulir di sana. Hingga hari ini, intervensi masih terus dilakukan melalui cabang dan relawan lokal. Berbagai pengalaman menarik dialami para pejuang kesehatan di Papua.
“Banyak pembelajaran dialami oleh tim kesehatan di sana. Sebagian pengalaman tersebut dituangkan ke dalam buku. Jadi, buku ini adalah sebagaian potret yang terjadi di sana,” terang General Manajer Kesehatan Dompet Dhuafa, Yeni Purnamasari.
Lebih lanjut Dhihram Tenrisau sebagai relawan medis sekaligus penulis buku tersebut berharap, agar buku tersebut bisa memberikan kajian literasi yang bermanfaat. Terlebih dalam dunia respon kesehatan di kasus-kasus yang serupa kedepanya.
“Semoga buku ini dapat bermanfaat untuk ke depannya. Terutama di dunia kerelawanan medis seperti apa yang kami lakukan di Asmat,” jelas Dhihram. (Zul)























